Multitafsir Tentang Pembuatan Indikator Pada RPP

Judul tulisannya sedikit aneh “multitafsir tentang pembuatan indiktaro pada RPP”, tapi mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini tidak ada yang aneh atau merasa aneh dengan RPP yang sudah bapak/ibu buat. Tulisan merupakan refleksi dari pengalaman pribadi pada saat mengikuti lokakarya pembuatan RPP yang diisi oleh para pakar pendidikan. Disebut pakar karena profesi dan keseharian mereka bergelut dengan dunia pendidikan bukanlagi pada tatanan pelaksana, tapi sudah pada tatanan penelitian, dan buah pemikirannya didengar oleh penyusun regulator kurikulum pendidikan di tanah air ini.

RPP merupakan satu dari sekian banyak administrasi guru, untuk menyusunnya diperlukan kemampuan prasyarat (hehe). Kemampuan prasyarat tersebut antara lain harus tahu struktur kurikulum yang berlaku, paham cara menggunakan Kata Kerja Operasional, mampu menyusun silabus pembelajaran sesuai prosedur, paham sintak-sintak model pembelajaran yang akan digunakan, paham metode mengajar,  mengetahui jumlah jam epektif pada mapel yang akan diuatkan RPPnya, tahu kalendik sekolah untuk penyesuaian alokasi waktu, mengetahui fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran (media, alat belajar), mampu mencari dan menyusun bahan ajar, mampu membuat media ajar, mampu membuat LKPD, mampu membuat kisi-kisi dan rubrik soal, mampu merancang penilaian (penilaian pengetahuan dan keterampilan), dan satu lagi yang tak kalah pentingya punya semangat untuk membuatnya.

Melihat banyaknya kemampuan prasyarat yang harus dimiliki Guru sebelum coba-coba menyusun RPP, maka tak heran Guru jadi “wegah” membuat RPP tersebut. Malas, sebenarnya merupakan alasan utamanya manakala guru wegah membuat RPP, yang lainnya hanya pendukung saja (hehe).

Kembali ke judul Multitafsir Tentang Pembuatan Indikator Pada RPP, saya mau menceritakan betapa membuat Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) itu tidak mudak, mungkin ini cuma perasaan saya, tapi faktanya teman-teman saya pada saat lokakarya juga merasakan hal yang sama, membuat IPK itu susah.

Multitafsir

Pada saat menyusun Silabus guru harus menafsirkan dulu KI KD, pada tahap ini guru mesti mencermati KKO (kata kerja operasional) pada KI KD tersebut untuk kemudian mengembangkannya kedalam Indikator Pencapaian Kompetensi. Ada aturan, minimal satu KD dikembangkan menjadi dua IPK. Karena IPK merupakan penanda ketercapaian KD, maka dalam penyusunan IPK harus dipikirkan betul karena dari sinilah materi ajar akan dibuat.

Cuma itu tadi, dalam menafsirkan KD setiap orang punya interpretasi sendiri-sendiri. Sekalipun KKO sudah dibuat sesuai taksonomi dan menjadi prosedur dalam penyususunan IPK, perbedaan interpretasi terhadap kata kerja pada KD itulah yang membuat antar satu guru dengan guru lainnya akan berbeda dalam menggunakan kata kerja punyusun IPK. Lain orang lain tafsiran, meskipun berpedoman pada KKO taksonomi tetap saja pemilihan kata kerja yang berbeda sedikit banyak berbeda pula dalam penyajian materi ajar.

Kenapa sih guru harus dipusingkan dengan pemilihan KKO pada pengembangan KD di IPK? Bahkan pada KD ada kata kerja yang tidak relevan dan karenanya harus disetarakan kembali oleh guru dalam bentuk analisis KI KD. Keana pula Silabus tidak langsung jadi, agar guru lebih cepat dalam pembuatan RPP, karena dalam membuat RPP pun guru mesti berpikir keras lagi untuk menyusun bahan ajar yang sesuai dengan IPK, belum lagi pembuatan media untuk mempermudah pembelajaran bagi siswa, belum lagi guru juga harus membuat LKPD dan alat evaluasi.

Jadi jangan heran kalau masih banyak guru yang “wegah” untuk membuat RPP, karena untuk membuat RPP yang fungsinya lebih banyak untuk administratif saja tersebut guru harus berulang kali mengernyitkan dahinya untuk memilih KKO yang tepat, dan itu dilakukan disela-sela padatnya jam mengajar pula.

Hikmah

Untuk menjadi guru profesional memang berat, bukan cuma dituntut kemampuan mengajar dan kemampuan menyederhanakan materi pembelajaran sehingga mudah dipahami oleh siswanya, tapi juga harus mampu menyusun perangkat-perangkat pembelajarannya, dan salah satunya adalah RPP.

Karenanya seberat apapun itu membuat RPP, ya tetap harus dikerjakan. Sebanyak apapun alasan tentang proses pembuatan RPP yang njlimet, tetap saja guru akan ditagih RPP nya sebagai fakta administrasi mengajarnya. Karenanya mari menyusun RPP dengan cara yang mudah, dengan cara kita sendiri, sekalipun orang lain mungkin menyalahkan cara kita, toh yang lebih penting dan tahu bagaimana kita menyusun RPP adalah kita. Dan sekedar menghibur, toh tak ada RPP yang salah, yang salah adalah yang tidak membuat RPP (hehe).

Kabar baiknya beberapa bulan kedepan saya akan coba membuat website yang berisi RPP yang sudah jadi, yang sudah dilengkapi dengan analisis KI KD dan silabus, dilengkapi bahan ajar dalam bentuk modul sesuai KI KD, dilengkapi pula dengan media ajar yang dibuat menggunakan PowerPoint atau Flash, didukung pula dengan video simulasi dan lain sebagainya, dilengkapi pula dengan kisi-kisi dan rubrik soal, juga instrumen penilaian. Tunggu ya….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: