Menangani Guru di Sekolah Swasta itu Tidak Mudah

Bagi pengelola sekolah swasta, bukan cuma pemilik, melainkan struktur manajemen di sekolah swasta pasti merasakan tidak mudahnya “mengurusi” guru yang mengajar di lembaga yang dikelolanya. Keadaan ini menjadi masalah klasik di sekolah-sekolah swasta. Ceritanya mungkin berbeda bagi sekolah-sekolah swasta yang secara finansial sudah mapan, atau kami sebut sekolah swasta bonafit dimana guru yang mengajar disana merupakan guru tetap yang tidak mengajar ditempat lain. Yang kami bicarakan disini adalah keadaan di sekolah swasta biasa, sekolah swasta kebanyakan di Indonesia.

Umumnya status Guru yang mengajar di sekolah swasta bukanlah guru tetap, malah kami sering menyebutnya “guru terbang”, karena mobilitasnya mengajar disana sini. Secara tanggungjawab guru-guru semacam ini biasanya hanya sebatas pada tanggungjawab pada kegiatan mengajarnya saja, itupun tidak maksimal, karena banyaknya agenda mengajar ditempat lain. Datang kadang terlambat, karena dia juga harus membagi waktu antara mengajar di tempat lain  dan jarak tempuh dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Bahkan ada “oknum” guru terbang yang mensiasatinya dengan istilah gilir, minggu ini mengajar ditempat A, minggu besoknya mengajar ditempat B.

tips mengelola guru di sekolah swasta

Sekolah swasta biasanya juga hanya kebagian waktu sisa dari aktivitas guru yang mengajar di sekolah negeri, baik itu guru pemerintah (PNS) maupun guru sukwan. Ini yang miris sebenarnya, untuk guru PNS biasanya sekarang sudah tidak bisa bercabang dan hanya fokus di satu sekolah, ini yang sukwan, guru honor biasa mengajar di sekolah negeri kadang lebih memprioritaskan aktivitasnya di sekolah negeri tersebut padahal mereka juga mengambil tanggungjawab untuk siap mengajar di sekolah swasta, dan akhirnya yang jadi korban adalah para siswa di sekolah swasta yang kadang mesti menunggu lama gurunya atau malah ketika sudah menunggu lama ternyata tidak datang. Miris, dan ini realita yang terjadi saat ini.

Alasan guru mengajar disana sini, atau lebih prioritas di sekolah negeri juga merupakan alasan klasik, yaitu;

Mengejar honor lebih, atau tambahan gaji

Cita-cita mulia ingin menjadi abdi negara / PNS

Dua alasan tersebut merupakan alasan klasik yang sepertinya mulai dilestarikan sejak awal 90-an kesini, maaf ini perseps pribadi saja, karena jika melihat cerita guru-guru “dahulu” sepertinya kita mendapati cerita menyejukan tentang bagaimana besarnya tanggungjawab guru-guru terhadap sekolah tempat ia mengajar, tanggungjawab terhadap propesi mulainya dimanapun ia mengajar, entah di sekolah negeri maupun sekolah swasta.

Kesulitan mengatur jadwal mengajar

Contoh paling mudah pada saat mengatur jadwal pelajaran. Jadwal yang sudah dibuat oleh bagian kurikulum biasanya tidak langsung bisa dijalankan, karena selalu ada saja guru yang mengajukan perubahan jadwal agar tidak bentrok dengan jadwal mengajarnya ditempat lain.

Sekalipun bagian kurikulum sudah jauh-jauh hari membuat jadwal mengajar tersebut, tapi tetap saja harus mengalah kepada guru-guru terbang tersebut, terutama guru terbang yang mengajar di sekolah negeri yang sepertinya sekolah swastalah yang harus menyesuaikan dengan jadwal guru di sekolah negeri.

Walhasil satu sampai dua minggu, bahkan lebih jadwal di sekolah swasta itu akan terus berubah sampai “jadwal” guru-guru terbang tersebut sudah cocok, sudah pas, sudah sesuai dengan jadwal mengajarnya ditempat lain.

Dua minggu, bukan waktu yang sebentar bukan? Siswa harus galau menunggu jadwal. Lagi-lagi reputasi sekolah swasta dipertaruhkan.

Bagi orang tua siswa yang tidak mengerti apa yang terjadi didalam sekolah pasti akan menganggap pengelola sekolah tidak “becus”, membuat jadwal pelajaran saja berminggu-minggu.

Bagaimana seharunya menangani guru, bagi pengelola sekolah swasta?

Hal sulit harus dilakukan. Ketegasan.

  • Pengelola harus tegas terhadap guru-guru yang bersedia mengajar di lembaga yang mereka kelola. Ini mestinya dilakukan diawal rekrutmen guru tersebut, pada saat wawancara pengelola harus menjelaskan tentang visi misi sekolah kedepan.
  • Pengelola harus menjelaskan berapa gaji yang akan diperoleh guru. Dengan gaji yang diberikan tersebut, berapapun besarnya, pengelola harus memberikan pilihan terbaik siap dengan gaji yang akan diterima dengan konsekuensi tidak mengajar ditempat lain, atau paling tidak guru baru tersebut siap memberi prioritas lebih kepada lembaga contoh sederhana prioritas lebih tersebut mementingkan kbm di lembaga sebelum ditempat lain.
  • Membuat fakta integritas tentang kesanggupan mengajar
  • Membuatkan SK guru tetap yayasan (GTY) dengan konsekuensi beban kerja lebih dibanding guru non GTY. Dan tentu dari sisi finansial juga dibedakan, antara GTY dan non GTY, ini semata-mata untuk mengikat guru secara kelembagaan. Tentu untuk menuju GTY ini harus ada prosesnya, dilihat trek kerja guru dalam periode tertentu sejak pertamkali bekerja, biasanya kurang lebih satu tahun. Apabila dalam setahun grafik kinerjanya postitif terhadap lembaga maka guru tersebut berhak mendapatkan SK GTY.
  • Memprioritaskan guru berstatus GTY dalam hal memperoleh hak-haknya, seperti nominal pendapatan yang lebih dibanding GTT, hak untuk mendapatkan tunjangan baik dari lembaga maupun dari pemerintah, hak untuk mendapatkan reward dan bonus dari lembaga, hak untuk memperoleh kemudahan dalam pengurusan tendik/dapodik, hak untuk mendapatkan tunjangan profesi guru, dan hak-hak lainnya yang dapat membantu kesejahteraan guru, tentu besarannya disesuaikan dengan kondisi keuangan sekolah.
  • Terus menerus mebangun kerjasama yang baik dengan guru, melakukan pendekatan dan hal-hal lainnya yang membuat team work itu solid.

Dan masih banyak lagi point penting yang harus pengelola lakukan, dalam hal ini pimpinan sekolah / kepala sekolah memegang peranan penting dalam hal penegasan tersebut.

Telaah saja buat sesama guru yang mengajar di sekolah swasta

Pada dasarnya semuanya kembali lagi kepada kita. Kepada niat baik kita, tanggungjawab kita, baik tanggungjawab kepada profesi kita maupun tanggungjawab kepada lembaga dan siswa, lebih-lebih tanggungjawab kepada Allah SWT.

Bukankah profei guru itu pilihan kita?

Kalau bukan pilihan kita, mengapa kita sekarang tetap bertahan menjadi guru?

Kalau bukan pilihan kita, mengapa dahulu waktu kuliah kita mengambil jurusan kependidikan?

Ketika kita sudah memilih guru sebagai profesi, gaji kecil adalah konsekuensi yang sebelumnya juga sudah kita ketahui bukan? Besaran gaji bukan alasan untuk mengurangi semangat kita dalam mengajar, sebab ini adalah tanggungjawab. Yang harus kita pertanggungjawabkan nanti kelak.

Mengajar dibanyak sekolah adalah hak setiap individu guru untuk memperoleh rejekinya, tapi tanggungjawab lebih harus tetap pada lembaga induknya, lembaga yang pertamakali ia masuki, lembaga dimana data induk kita ada. Kalau sudah bisa seperti itu maka kita sudah profesional dengan tidak merugikan siapapun, kalau belum bisa maka lebih baik memilih dimana kita akan maksimal.

Mengajar dimanapun sama saja, di sekolah swasta ataupun di sekolah negeri. Kalaulah tujuannya menjadi PNS, maka sekolah swasta adalah bisa jadi kawah candradimuka untuk belajar mengelola sekolah yang tidak akan ditemukan di sekolah negeri yang umumnya secara struktural dan manajemen sudah mapan. Dengan belajar banyak hal di sekolah swasta tersebut, mudah-mudahan ketika anda jadi PNS, maka anda benar-benar guru PNS yang profesional dan mampu mengelola sekolah.

Jangan mengambil banyak tanggungjawab kalau ternyata kita belum bisa membagi tanggungjawab tersebut, dampaknya bukan cuma pada reputasi kita, tapi reputasi lembaga lain yang sudah susah payah orang lain membangunnya.

Selamata berlibur, semoga liburan anda menyenangkan, tetap semangat buat para pengelola sekolah swasta!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: