Budaya Minta-Minta…

Budaya minta-minta, itulah yang ada di pikiran saya sewaktu melihat segerombolan anak muda meminta sumbangan untuk acara 17-an kemarin. Sebenarnya meminta sumbangan itu tidak masalah selagi jelas kegiatannya, saya juga dulu sering melakukan hal yang sama ketika hendak membuat kegiatan kepemudaan. Cuma saya tidak sampai “lebay” turun ke jalan kalau hanya untuk acara 17-an, masih banyak cara untuk mendapatkan sumbangan dana. Hampir di sepanjang jalan dengan jarak hanya beberapa meter segerombolan anak muda itu berdiri di pinggir jalan, dengan memasang drum bekas minyak, di lengkapi pula dengan pengeras suara dan tulisan yang menjelaskan maksud mereka meminta sumbangan tersebut. Tentu keadaan seperti ini menurut saya sangat mengganggu pengguna jalan, karena kami sedikit-sedikit harus “mengerem” kendaraan. Budaya minta-minta sebenarnya ada di mana-mana dan mudah kita temui, bukan cuma anak-anak muda yang saya ceritakan tersebut, tapi pak Polisi yang berseragam gagah pun kadang tak malu untuk meminta-minta, bukan cuma polisi, tapi Guru, bahkan pejabat pemerintahan pun rasanya sudah tak malu untuk meminta-minta.

Setiap pulang dari mengajar saya familiar dengan pemandangan seorang petugas DLLAJ yang kerjaanya mengacungkan tangan kanannya ke jendela sopir yang melintas tepat di depannya, kemudian si sopir dengan biasa mengeluarkan recehan seribuan ke tangan petugas DLLAJ tersebut. Uang retribusi katanya. Tapi entahlah retribusi untuk apa, toh jalan yang kami lintasi sepertinya tidak pernah di perbaiki, bahkan tepat dimana petugas DLLAJ tersebut biasa mangkal pun keadaanya rusak parah.

Saya pun sering melihat Polisi yang begitu gagah dengan seragamnya, dengan tidak malu mengantongi recehan yang di berikan pengendara yang apes kena tilang lantaran tidak mematuhi aturan lalu lintas. Uang damai katanya.

Saya pun sering melihat instansi meminta-minta ke lembaga lainnya untuk mendapatkan sumbangan pembangunan, dan lain sebagainya. Ini bukan minta-minta katanya, melainkan pengajuan bantuan. Padahal sama saja intinya minta. Yang lebih tragis, ketika lembaga sekolah meminta-minta kepada para orang tua siswa ketika ada pembangunan atau kegiatan lainnya. Caranya mungkin lebih elegan, plur kegiatan dan mengajak orang tua siswa iktu berpartisipasi.

Modus meminta-minta

Lain yang di lakukan anak muda ketika membutuhkan dana untuk 17-an, lain pula yang di lakukan polisi, guru dan instansi. Masing-masing mempunyai cara dan skenario untuk bisa mendapatkan dana dengan cara meminta kepada orang lain. Kalau anak-anak muda tadi cukup beridir di samping jalan, memasang drum untuk menghambat laju kendaraan kemudian beberapa orang berdiri memgang kardus dan menjulurkannya kepada pengendara. Lain pula dengan DLLAJR yang cukup menjulurkan tangan ke sopir-sopir. Pun lain pula yang di lakukan instansi bernama sekolah yang harus membuat portofolio dan gelar diskusi terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan meinta-mintanya.

Pada dasarnya semuanya minta. Cuma caranya yang beda, dan itu mungkin pantas saya sebut modus. Modus meminta-minta…

Lalu apa bedanya dengan pengemis?

Sering kita di buat sebal dengan ulah pengemis yang menurut kita mereka tak lebih dari orang-orang malas yang tidak mau bekerja lebih keras untuk mendapatkan sesuatu. Tapi kalau kita mengamati lebih jauh ternyata bukan cuma pengemis yang sering berpakaian mengenaskan yang sudah kehilangan rasa malunya untuk meminta-minta, toh ternyata yang berpakaian bagus, berdasi, berseragam, memiliki jabatan dan gelar pendidikan tinggi pun ternyata banyak yang seperti pengemis tersebut.

Tujuannya pun sama. Pengemis (beneran) melakukan kegiatan mengemisnya untuk kebutuhan pribadinya baik itu hanya untuk sekedar makan, atau membuat rumah mewah di kampunya (karena belakangan di ketahui ada banyak pengemis yang memiliki rumah dan kendaraan mewah di kampunya). Begitupun dengan pejabat, pemiliki yayasan sekolah yang mondar-mandir ke pemerintah daerah membawa proposal tentu tujuannya untuk dirinya walau di kemas dalam judul untuk pembangunan sekolah dan lain sebagainya….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: