Dapat Ilmu Dari Toko Matrial

Pagi tadi mertua saya meminta saya untuk membeli cat tembok, maka pergilah saya ke toko matrial yang tempat dimana saya dulu pernah membeli alat-alat tukang, karena toko matrial tersebutlah yang pertama kali muncul diingatan saya. Sesampainya di toko matrial tersebut ternyata cat tembok dengan merk yang saya maksud tidak ada, si pemilik toko dengan baik hati pula menyarankan saya untuk mencarinya di toko matrial satunya lagi yang jaraknya hanya beberapa meter saja. “cat merk itu gak ada mas, coba di toko matrial depan mungkin ada…” kurang lebih seperti itu saran si engkoh (sebutan lazim untuk warga keturunan china). Tanpa saran si engkoh pun tentu saya akan mencarinya di toko yang lain, tapi ini pelajaran menariknya. Sikap ramah, mau melayani, dan tidak mengecewakan konsumen. Terus terang sebagai pembeli tentu kecewa ketika hendak membeli sesuatu ternyata barangnya tidak ada, tapi akan lebih kecewa lagi kalau pelayanan yang diterima juga mengecewakan. Misalanya begini “tidak ada mas…” dan diucapkan dengan nada ketus sambil memalingkan mukanya ke pembeli yang lain. Saya pun pergi ke toko matrial yang si engkoh sarankan tersebut, dan disana saya juga mendapat pelayanan yang sangat baik.

Sesampainya di depan toko matrial, saya melihat tumpukan barang yang rapi. Dan tak beberapa lama si enci langsung menyambut saya, “mau beli apa mas?” dia pun langsung berdiri dan siap mencarikan barang yang mungkin ada di toko tersebut. “cari cat tembok ci merk….warna putih” kata saya. Dan tak beberapa lama barang yang saya pesan sudah ada.

Ada pelajaran yang saya dapatkan dari toko matrial yang kedua ini, entah karena hari minggu atau memang setiap hari seperti itu, yang melayani toko tersebut sepertinya satu keluarga. Karena saya melihat ada tiga anak, yang satu permpuan usianya mungkin semumuran anak SMA, satunya mungkin masih SMP yang ini laki-laki, dan satu lagi perempuan kayaknya masih SD kelas limaan. Semuanya sigap melayani pembeli, tidak canggung, dan tidak “olokan” takut kotor atau terlihat malas. Seperti liburan saja, dalam hati saya.

Mungkin ini yang disebut pembelajaran bisnis sejak dini. Anak-anak dibawa oleh orang tuanya ketempat dimana ia bekerja, dalam hal ini toko. Si anak belajar langsung bagaimana ia melayani pembeli, merasakan proses jual beli, dan lain sebagainya.

Dalam pelajaran IPS kelas 3 SD ada materi jual beli, untuk materi tersebut saya sering membuat proyek praktik jual beli. Biasanya saya mengajak siswa datang langsung ke pasar tradisional dan pasar modern, disana anak-anak mengamati seperti apa sih pasar tradisional dan seperti apa juga pasar modern. Mereke juga berbelanaja disana, tentu dengan jumah yang dibatasi, apa yang dibeli anak-anak adalah barang yang akan dijadikan bahan untuk membuat produk baru dan akan dijual di pasar dadakan yang diadakan di sekolah. Beberapa sekolah menyebut kegiatan ini “market day”. Begitulah, belajar langsung itu menyenangkan siswa. Dan si siswa pun biasanya lebih cepat mengerti.

Kembali ke toko matrial, saya juga melihat sepertinya anak-anak si engkoh itu fun. Pantas saja warga keturunan selalu menguasai pasar, dan jarang sekali mereka bekerja untuk orang lain, lah sedari kecil mereka sudah diajari jual beli, membangun usaha sendiri.

Satu lagi pelajaran yang saya temukan di toko matrial tersebut, disana sudah dilengkapi perangkat CCTV. Jadi monitoring bisa dilakukan disatu tempat, ini efisiensi dan pemanfaatan teknologi dengan baik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: