Ngobrol itu bermanfaat

talk isHari minggu kemarin saya ketemu sahabat lama yang jarang sekali ketemu, maklum kami sudah sama-sama berkeluarga. Dan tempat tinggal kami juga beda provinsi, dia di Banten dan saya di Jawa barat. Padahal waktu kecil sampai remaja kami selalu bersama, istilahnya sahabat karib begitu. Namanya Hasanudin, tapi akrab di panggil Udin, entahlah selalu begitu, nama dengan akhiran din selalu dipanggil udin. Dari ketemuan itu kami ngobrola kesana-kemari seputar kehidupan kami saat ini, ada hal menarik dari cerita sahabat saya ini seputar pengalamannya berbisnis. Bagaimana ia memulai bisnisnya dari nol, alias tanpa modal, sampai beromset puluhan juta sehari. Bagaimana ia adu licin dengan Polisi untuk melindungi bisnisnya. Dan sekarang bisnisnya di ambang bangkrut. Banyak penyebab yang membuat bisnisnya bangkrut, dari mulai soal perda, upeti polisi, salah urus manajerial, dan lain-lainnya yang bagi saya itu semua sangat menarik. Mungkin lebih menarik dari ocehan dosen saya waktu kuliah dulu, sebab ini benar-benar riil dialami teman saya tersebut.

Dulu teman saya itu memang dikenal sebagai anak yang cerdas, sewaktu SMP, kalau ada seleksi beasiswa dia selalu mendapatkannya. Begitupun ketika dia memilih sekolah di Jakarta diapun dianugerahi sebagai siswa teladan se-Jakarta. Tapi anehnya setelah lulus STM, dia tidak melanjutkan kuliah dan malah memilih mencari kerja. Dan akhirnya dia hijrah ke batam untuk bekerja disana. Saya pikir dia bakal sukses sepulangnya dari Batam nanti. Tapi setelah beberapa tahun, dan dia pulang kampung ternyata tidak seperti yang saya pikir. Ternyata selama di Batam dia bekerja sebagai sales door to door yang menawarkan produk pisau dapur. hehhe…. saya sempat ketawa geli mendengar pengalamannya waktu di Batam tersebut.

Tapi pengalaman menjadi sales tersebut sangat berharga buat sahabat saya ini, buktinya beberapa bulan kemudian dia mendirikan kantor di Serang dan mulai melakukan perekrutan karyawan. Dan si karyawannya ini nantinya melakukan pekerjaan seperti yang teman saya lakukan di Batam, yaitu jadi sales pisau. hehhe. Dan seinget saya dia sudah memiliki banyak karyawan, omsetnya pun per hari sudah jutaan, sebuah omset luar biasa untuk anak lulusan STM tanpa modal. Dan tak lama kemudian dia mendapat jodoh, anak ibu kostnya. Dan beberapa tahun kemudian saya mendengar dia bangkrut.

Tak lama berselang, dia pun melamar kerja di perusahaan minuman beralkohol di Jakarta Barat, dan karena pengalamannya sebagai sales di Serang, dia pun ditempatkan di Serang untuk kembali menjadi sales kanvas. Akhirnya dia mendapat posisi bagus se-level manajer wilayah. Naluri bisnisnya kembali muncul, dia pun memutuskan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, dan memilih membuka toko. Dan produknya tak lain produk-produk yang biasa ia kanvas, dan perusaahaan tempat ia bekerja dulu kini menjadi partnernya untuk memasok barang ke tokonya.

Disinilah cerita menariknya menurut saya. Banyak hal yang ia ceritakan seputar bisnis abu-abunya. Kenapa ia sebut bisnis abu-abu? Karena produk yang ia jual bisa dibilang barang ilegal tapi legal. Ilegal jika proses distribusinya tidak memiliki ijin, sementara jika memiliki ijin maka dilegalkan. Baru beberapa bulan menjalani bisnis ini ia sudah berhasil membuka beberapa cabang toko, dan mempekerjakan banyak karyawan tentunya. Simbol-simbol keberhasilanya pun sudah terlihat, mobil, motor, dan barang investasi lainnya berhasil ia miliki. Termasuk istri mudanya, hehe.

Untuk mengamankan bisnisnya, ia pun mesti membayar backing dari oknum tentara dan polisi yang dalam sebulannya lumayan besar katanya. Belum lagi, setiap harinya selalu ada saja oknum-oknum polisi yang datang meminta jatah. Misalnya hari ini datang oknum dari polsek dengan alasan ada kegiatan di markas si oknum meminta bantuan untuk dibelikan rokok, air mineral yang jumlahnya lumayan. Besoknya datang lagi, tentu dengan oknum yang berbeda. Dan kalau tidak dituruti permintaanya, sudah dipastikan besok atau lusanya akan datang satu truk polisi yang datang dengan alasan razia miras.

Untuk menjalankan bisnis ini memang harus semi mafia, kata teman saya. Contohnya, gudang tempat ia stok barang mesti pindah-pindah, tidak menetap disatu tempat. Karena ini berbahaya, kalau sekiranya sudah terendus polisi maka ia segera pindah tempat. Begitu seterusnya. Pindah-pindah tempat ini ia lakukan untuk menghindari razia dan pungutan-pungutan yang merugikannya.

Sampai akhirnya beberapa minggu kemarin, mobil yang berisi barang dagangannya tersebut kena razia. Bukan cuma itu, bisnisnya pun mulai lesu, lantaran seringnya razia dan pungutan-pungutan tersebut. Padahal teman saya juga memiliki piutang ratusan juta. Ini resiko bisnis, katanya. Dengan terpaksa teman saya tersebut datang ke Polda untuk mengurus mobilnya yang ditahan disana.

Di Polda ia berhadapan dengan kapten polisi, ini menarik juga menurut saya, sebab disana ternyata ia malah dipinta 6 juta perbulan untuk memuluskan bisnisnya. Uang koordinasi, begitu istilah yang diberikan polisi tersebut kepada teman saya. Tentu tawaran tersebut ditolak, lantaran akumulasi keuntungan bisnisnya saja paling 3 jutaan sebulan. Teman saya juga mesti adu argumen disana, soal regulasi peredaran barang abu-abu yang ia jual. Dari sini saya baru tahu, ternyata yang mengeksekusi regulasi miras itu adanya di perda. Tiap daerah beda-beda. Dan untuk menjual produk ini mesti ada ijinnya, dan ijinya pun per item. Lumayan ribet juga dan tentu bikin bangkrut. Lantaran itu banyak yang menjual barang abu-abu ini mensiasati perijinan dengan ijin usaha tempat hiburan. Wah…

Teman saya menceritakan, bahwa tulisan anti korupsi, kolusi dan nepotisme kadang hanya jargon saja. Sebab kenyataanya, di dalam kantor penegak hukum pun banyak sekali ajakan untuk berdamai. Dalam obrolan tersebut akhirnya ada titik sadar yang terucap dari mulut teman saya, bahwa bisnis yang ia jalani memang bukanlah bisnis yang baik. Ia menyadari sebesar apapun yang ia peroleh dari bisnisnya pada akhirnya tetap habis. Karenanya ia saat ini sedang memulai bisnis produksi makanan, yaitu dodol.

Sungguh sebuah pelajaran…
Pelajaran yang diperoleh dari obrolan. Maka lewat tulisan ini saya ingin mengatakan, bahwa jangan membatasi diri untuk membuka obrolan…sebab dari obrolan tersebut akan banyak sekali pengalaman dan pengetahuan yang bisa kita peroleh dari lawan bicara kita!

 

 

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: