m-Learning itu Untuk…

mobile leraning adalahSetiap masuk kelas saya selalu mendapati siswa sedang asyik dengan ponsel pintarnya, sementara diatas mejanya ada laptop dengan piranti pendukung lainnya yang berserakan seperti flashdisk, powerbank, card reader, dan usb modem. Untuk apa mereka membawa perangkat sebanyak itu? Yang saya tahu mereka suka sekali bermain game android semacam angry bird atau browsing via ponsel ketika akses internet yang disediakan wifi sekolah lelet. Padahal menurut saya semua aplikasi dari beberapa piranti tersebut sebenarnya ada semua dalam laptop mereka, tapi nyatanya mereka tetap membawa seabrek piranti tersebut. Dan dengan banyaknya piranti yang mereka bawa kadang mengganggu semangat belajar mereka dan itu tak jarang dikeluhkan guru, faktanya memang siswa lebih asyik browsing ketimbang mendengarkan ceramah materi gurunya. Untuk masalah yang ini sebenarnya kembali kepada aturan sekolah dalam mendisiplinkan penggunaan piranti siswa tadi. Dan saya tertarik dengan piranti yang siswa bawa, untuk dijadikan media pembelajaran. Bagaimana ponsel bisa dijadikan media belajar? Dan setelah browsing-browsing saya menemukan beberapa thread yang membahas m-learning alias mobile learning.

Jenis media belajar
Secara umum media belajar terdiri dari:

  1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
  2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
  3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
  4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

Dan saat ini piranti semacam phonsel pintar (smart phone) sudah mencakup fungsi keseluruhan dari media belajar diatas. Karenanya menarik dan sangat mungkin bagi seorang guru untuk mencoba menerapkan model pembelajaran berbasis piranti phonsel tersebut.

Konsep m-Learning
Dari beberapa tulisan dengan topik m-learning, Clark Quinn menjadi sumber referensi mengenai devinisi m-learning tersebut: “The intersection of mobile computing and e-learning: accessible resources wherever you are, strong search capabilities, rich interaction, powerful support for effective learning, and performance-based assessment. ELearning independent of location in time or space”.

m-Learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi seperti piranti PDA, smatphone, tablet, laptop dan piranti mobile lainnya, dan pada dasarnya m-learning merupakan bagian dari e-learning.

Secara sederhana, m-learning merupakan model pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi komputer bergerak (mobile computing) yang ada pada perangkat atau gadget seperti telepon genggam, PDA, dan sejenisnya. Dengan perangkat atau gadget tersebut diharapkan bisa mengakses materi ajar dimana saja dan kapanpun yang sudah disediakan dalam berbagai jenis media belajar yang disimpan dalam konten web, blog, cloud storage, dan yang berbasis web lainnya.

Artinya kalau guru mau melaksanakan model pembelajaran m-learning setidaknya harus memiliki pengetahuan:

  • Penyusunan materi ajar yang akan disimpan dalam konten, bisa berupa teks, audio, visual atau penggabungan dari ketiganya yang selanutnya kita sebut multimedia.
  • Penggunaan tool aplikasi pendukung (internet, web atau blog, cloud, dan lainnya)
  • Penggunaan piranti seperti PDA, tablet, smartphone, dan perangkat mobile lainnya yang akan digunakan dalam model pembelajaran

Contoh disain konten m-learning bisa download disini (quinnovation.com)

Lalu, bagaimana melakukan pembelajaran dengan m-learning?
Dalam satu kasus, saya memberi contoh begini; di kelas saya ada sekitar 20 siswa. Setiap siswa mempunyai ponsel dengan aplikasi pintar didalamnya. Keadaan ini tentu menguntungkan ketika saya hendak mencoba model pembelajaran  m-learning, karena fasilitas untuk mendukung model pembelajaran ini sudah tersedia.

Ini cocok tentunya dengan konsep pembelajaran m-learning, yaitu semakin berkembangnya perangkat teknologi yang salah satunya ponsel, dimana hampir semua orang memiliki ponsel, maka paradigma pembelajaran pun berkembang dari yang konvensional ke paradigma baru yang lebih kreatif. Tujuannya tentu agar proses belajar terjadi sepanjang masa, tanpa batas waktu dan tempat.

Skenario pembelajaran pun bisa saya susun sebagai berikut:

  1. Melihat aplikasi yang ada pada ponsel siswa, karena tidak semua ponsel memiliki aplikasi yang sama. Untuk itu saya akan melihat aplikasi apa saja yang ada pada semua ponsel siswa. Ini penting untuk bahan perancangan sistem yang akan saya buat.
  2. Menyiapkan materi dari mata pelajaran yang akan saya jadikan konten dalam aplilikasi pembelajaran yang akan saya buat
  3. Merancang sistem. Merancang sistem bukan berarti serumit rancangan sistem pra pembuatan software aplikasi. Cukup buat rancangan sederhana saja seperti materi yang akan kita berikan ke siswa akan disajikan menggunakan tool apa? Proses pengerjaanya bagaimana? Cara menggunakannya bagaimana? Atau kita bisa membuat rancangan dalam bentuk story board.
  4. Mengaplikasikan rancangan sistem. Sesuai rancangan kita bisa langsung menggunakan tool yang sudah dipilih, misalnya kita menggunakan tool cloud storage atau mobile blog, atau yang lainnya. Pada tahap ini kita memasukan materi menjadi sebuah konten yang nantinya akan diakses oleh siswa melalui ponselnya. Tool yang dipilih tentu harus support terhadap piranti mobile, untuk itu kita bisa memilih tool yang platformnya berbasis java atau symbian atau platfom mobile lainnya.
  5. Mencoba terlebih dahulu / testing. Testing diperlukan setelah konten selesai dibuat, ini untuk meminimalisir terjadinya error pada saat konten diakses ketika KBM berlangsung.

Skenario pembelajaran tersebut akan menghabiskan banyak waktu, terlebih jika kita belum mengetahui tool aplikasi yang bisa kita gunakan untuk mendukung pembuatan konten pembelajaran. Karenanya kita bisa mensiasatinya dengan memanfaatkan konten yang sudah tersedia di internet. Tinggal buat daftar situsnya, beserta materi konten yang ada pada tiap situs tersebut, kemudian sesuaikan dengan materi ajar kita. Dan pada saat KBM kita tinggal menginformasikan kepada siwa tentang situs-situs tersebut. Tentu m-learning yang kita gunakan dengan cara seperti ini hanya sebagai komplemen saja bukan full m-learning.

Pada saat KBM kita bisa melakukan hal ini:

  • Menjelaskan terlebih dahulu model pembelajaran yang akan dipraktikan
  • Menjelaskan fungsi ponsel dalam model pembelajarn yang akan dipraktikan
  • Memberikan instruksi-instruksi tentang tool dan aplikasi yang akan digunakan dalam KBM
  • Memandu siswa dalam proses KBM
  • Dan yang terakhir melakukan evaluasi

Semua pekerjaan tadi bisa kita lakukan dengan fasilitas yang ada pada ponsel, misalnya instruksi bisa dilakukan via sms, atau fasilitas sejenis. Dan kreatifitas guru akan sangat menentukan keberhasilan  m-learning ini.

Dan apapun pendapat para ahli tentang m-leraning, bagi saya m-leraning itu untuk:

  • Memanfaatkan ponsel siswa agar tidak melulu digunakan untuk game dan browsing tidak penting
  • Memfasilitasi ketertarikan siswa dengan ponselnya tetapi tetapi hak aksesnya dibatasi untuk pembelajaran
  • Merupakan strategi guru agar tidak melulu dicuekin lantaran dianggap tidak menarik ketimbang ponsel (hihi)

Bagaimana menurut anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: