Mau Usaha Apa Lagi?

imgMau usaha apa lagi? Begitulah kira-kira apa yang ada dalam pikiran saya, saat ini. Pertanyaan tersebut tidak ada hubungannya dengan proses pembelajaran dan KBM, melainkan pertanyaan yang ditujukan untuk diri saya sendiri. Sebagai seorang guru, tentu saya harus profesional, outputnya jelas, yaitu mampu memberikan seluruh kemampuan maksimal saya dalam bidang keilmuan yang saya miliki baik dari bangku kuliah maupun yang saya peroleh secara outodidak untuk siswa-siswa saya. Tapi sebagai kepala keluarga, saya juga harus bertanggungjawab terhadap semua hal yang menyangkut kebutuhan keluarga. Ini yang kadang tidak sinkron, tuntutan keluarga dan tuntutan profesi.

Di Sekolah saya harus sebisa mungkin memenuhi semua tuntutan lembaga, mulai dari jam 7.30 sampai jam 15.00, kadang lebih. Bahkan banyak sisa pekerjaan yang akhirnya dibawa pulang. Jelas waktu saya habis di lembaga dengan segala tuntutan dan aturan, serta hal-hal lain diluar profesional saya. Saya tidak bisa bergerak kesana kemari untuk mencari “tambahan honor” misalnya dari usaha yang ingin saya lakukan. Sementara tuntutan kebutuhan di rumah juga tidak mau tahu, ketika butuh sesuatu maka saya harus bisa mencukupi kebutuhan tersebut.

Saya kadang kebingungan, dan harus mengatakan “mau usaha apa lagi?”, sebab ketika hendak memulai usaha lain selalu mentok di waktu, ini seperti pertanyaan dari orang yang kebingungan, dan ini juga seperti pertanyaan dari orang yang tidak pernah sekolah. Sebagai guru, yang notabene saya adalah lulusan dari perguruan tinggi selayaknya mampu berpikir dan mampu mencari solusi dengan bidang profesional yang pernah saya dapati dari bangku kuliah tersebut.

Satu-satunya usaha sampingan yang bisa saya lakukan adalah usaha via internet. Itupun tidak fokus, hanya disela-sela waktu luang saja, kadang sehabis pulang ngajar baru saya bisa lakukan. Imbasnya, komunikasi dengan keluarga dan tetangga jadi terganggu juga, karena saya lebih sering didepan komputer. Tapi kalau itu tidak saya lakukan, ya mau usaha apa lagi?

Begitulah resiko yang harus saya ambil ketika memilih profesi guru yang memang bukan profesi yang menjanjikan kekayaan, melainkan keberkahan (begitulah kata teman-teman saya menasihati). Tapi saya tidak menyerah, profesi guru memang bukan untuk mencari kekayaan, tapi melalu profesi ini saya yakin bisa mendapatkan keberkahan dari tempat lain dengan usaha lainnya yang bisa saya kerjakan saat ini. Amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: