Ketika ada teman yang sakit kita harus….

Tadi pagi saya kebagian jam mengajar di kelas 3 sekolah dasar, setelah sebelumnya mengajar untuk kelas X MM. Dan hari ini adalah jadwal ulangan harian untuk mata pelajaran PKN, satu dari dua mata pelajaran non kompur yang saya pegang pada tahun ajaran sekarang.  Ada satu pengalaman menarik menanggapi respon anak terhadap mengapresiasi butir-butir pertanyaan dari soal ulangan yang saya buat. Satu butir soal isian yang mungkin “membingungkan” bagi siswa kelas 3 SD. Satu butir soal tersebut adalah…”Ketika ada teman yang sakit kita harus….” Mulanya terlihat wajar saja, toh saya sebelumnya sudah menentukan tujuan dari butir soal tersebut yakni siswa mampu mengamalkan norma kesusilaan dan agama, karena kompetensi dasar yang diulangkan hari ini adalah norma-norma yang berlaku di masyarakat. Tapi dari respon siswa, saya memperoleh pekerjaan yang sebelumnya yaitu analisis dan perbaikan butir soal. Seorang siswa saya bertanya…..

“Pak, itu sakitnya di rumah atau di rumah sakit?” Maksud dari siswa saya adalah, mau menegaskan mengenai butir soal yang kalimatnya “Ketika ada teman yang sakit kita harus…..” saya jadi ketawa sendiri, menertawakan soal tersebut tentunya. Dan tertawa lucu, mendengar pertanyaan siswa saya tersebut.

Memang, kalau dipikir-pikir pertanyaan yang saya buat tersebut “membingungkan”. Kenapa? Ketika seseorang sakit pasti dia berada disuatu tempat (ini dalam bahasa Indonesia mungkin disebut keterangan waktu).  Apakah ada di Rumah, di Rumah Sakit, di Tempat Pengobatan, atau dimana? Adalah wajar kalau siswa saya menanyakan hal tersebut. Kalau ada temannya yang sakit tentu jawaban yang benar adalah harus menengoknya dan itu yang ada dalam kisi-kisi soal yang saya buat tersebut.

Tapi siswa akan bermain logika, kalau temannya yang sakit ada di Rumah dia akan menengoknya. Tapi kalau di Rumah Sakit, dia akan mikir-mikir dulu, Rumah Sakitnya ada dimana ya? Hehehe…..lucu kan? Tapi benar, dan ini menjadi bahan evaluasi bagi saya khususnya. Bahwa ketika membuat soal mesti memperhatikan “kejelasan” dari soal yang kita buat tersebut jangan sampai membingungkan, dan ambigo.

Dan akhirnya kita harus membaca dan memperhatikan proses penyusunan butir soal ini:

  1. menentukan tujuan tes,
  2. menentukan kompetensi yang akan diujikan,
  3. menentukan materi yang diujikan,
  4. menetapkan penyebaran butir soal berdasarkan kompetensi, materi, dan bentuk penilaiannya (tes tertulis: bentuk pilihan ganda, uraian; dan tes praktik), menyusun kisi-kisinya,
    menulis butir soal,
  5. memvalidasi butir soal atau menelaah secara kualitatif,
  6. merakit soal menjadi perangkat tes,
  7. menyusun pedoman penskorannya
  8. uji coba butir soal,
  9. analisis butir soal secara kuantitatif dari data empirik hasil uji coba, dan
  10. perbaikan soal berdasarkan hasil analisis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: