Kejahatan Internet dan Peran Orangtua

kejahatan internet dan peran orangtuaBeberapa hari yang lalu saya dikagetkan oleh kabar dari salah seorang guru, mengatakan bahwa di sekolahnya ada satu kasus pelecehan seksual, parahnya dilakukan oleh siswa yang baru duduk di kelas rendah sekolah dasar. Berita buruknya lagi pelecehan seksual tersebut dilakukan oleh sesama jenis. Faktanya ternyata sudah terendus sekitar tiga orang siswa yang sudah menjadi korban, dan semuanya rekan satu kelas. Kabar seperti ini memang bukan hal baru, ada ratusan kasus yang terjadi yang setiap hari bisa kita temukan beritanya di media-media konvensional ataupun online. Dan yang membuat saya sedikit “sakit hati” adalah, setelah dilakukan pembicaraan intens dengan “si pelaku”, konon anak tersebut sering keluyuran masuk warnet dan di warnet tersebutlah mereka menemukan tontonan yang tidak baik (film forno). Faktanya, kenapa anak tersebut bisa dengan mudah keluyuran ke warnet, lantaran tidak adanya pengawasan dari orang tua. Kedua orangtuanya bekerja, dan si anak ditinggal tanpa siapapun di rumah selain adik-adiknya. Ini menjadi bahan peringatan bagi saya, pertama sebagai orang tua, kedua sebagai guru, dan yang ketiga sebagai orang yang sering memberikan edukasi tentang internet.

Saya coba mendalami kasus ini secara pribadi dengan mengambil posisi sebagai orang tua. Artinya saya mempunyai anak, dan mempunyai ketakutan terhadap anak saya dengan adanya kasus tersebut. Toh, ternyata kejahatan seksual bukan lagi dilakukan oleh orang-orang dewasa melainkan anak kecil yang usianya belum 9 tahun pun bisa. Ini pelajaran berharga, bagaimana saya harus “mewanti-wanti” kepada anak saya untuk berprilaku baik. Sebisa mungkin memberikan pemahaman-pemahaman yang baik. Dan karena saya orang bekerja yang tidak mempunyai banyak waktu untuk anak, maka saya harus berhati-hati betul dalam mengamanahkan tugas pengasuhan anak saya kepada orang yang memang benar-benar bisa dipercaya.

Yang kedua, saya sebagai guru. Mempunyai tanggungjawab atas prilaku siswa-siswa saya. Walaupun saya bukan guru agama, tetapi tanggungjawab memberikan pengetahuan tentang prilaku yang baik sudah menjadi tugas yang harus dilaksanakan. Ini beratnya, kadang sebagai guru kita tidak tahu seperti apa anak tersebut di rumah. Kadang kita tidak tahu apa yang dilakukan orangtuanya kepada anaknya. Dan ketika ada kasus semacam diatas, maka guru mempunyai tanggungjawab moral, dan pada akhirnya lembaga juga ikut bertanggungjawab.

Yang ketiga, saya sebagai orang yang sering memberikan edukasi tentang internet. Alangkah menyedihkanya, jika kasus kejahatan dilatar belakangi oleh konten yang didapat dari internet. Padahal internet dibuat bukan untuk seperti itu. Tapi faktanya, ada jutaan kejahatan yang terjadi lantaran internet, dan kebanyakan adalah kejahatan seksual baik dilakukan secara kriminal maupun tidak. Lalu, apa sih yang semestinya dilakukan oleh orang-orang yang sering memberikan edukasi internet? Berikanlah pengetahuan tentang internet, baik dan buruknya. Berikan pengetahuan untuk menggunakan konten-konten bermanfaat. Dan membangun komunikasi dengan orang tua siswa tentang internet sehat, internet positif. Disinilah pentingnya pengetahuan teknologi bagi orang tua, dan tidak menutup diri untuk tidak akrab dengan teknologi. Dan itu tugas saya tentunya, untuk mensosialisasikan tentang pengetahuan teknologi dan pemanfaatnya secara benar kepada orang tua.

Kejahatan Internet

Kejahatan internet yang saya maksud adalah kejahatan yang menyerang individu (againts person). Kejahatan seperti ini menyerang indiviidu dan salah satu contohnya adalah pornografi. Di internet ada jutaan situs porno, dan setiap harinya ada ratusan situs porno baru. Dan mudahnya akses internet, seperti di warnet memudahkan siapa saja untuk menjelajahi situs-situs porno tersebut. Mudah dan murahnya perangkat untuk mendapatkan akses internet pun ikut memudahkan seseorang untuk bisa mengakses situs porno tersebut. Dan kelalaian orang tua yang membiarkan anaknya berselancar internet sendirian di rumah, juga memungkinkan si anak untuk mendapati situs-situs yang tidak baik.

Peran orantua

Seperti dalam trilogi pendidikan, bahwa peran orangtua memegang porsi paling banyak dalam tumbuh kembangnya anak. Untuk itu, peran orangtua sangat berpengaruh terhadap apa yang anaknya lakukan hari ini. Orangtua yang baik, tentu akan menjadi orantua yang tidak hanya bisa mencukupi anaknya secara materi dan pendidikan formal yang baik. Tapi lebih dari itu, pembekalan materi-materi norma dan nilai-nilai agama semestinya diawali dari rumah, tentu oleh orangtuanya. Begitupun dengan apa yang dilakukan anak ketika berhadapan dengan teknologi seprti internet. Peran orangtua sangat dibutuhkan, bagaimana orangtua peduli terhadap anaknya dengan tidak membiarkan anaknya sebebas-bebasnya waktu berselancar di internet. Buatlah jadwal, arahkan anak ke konten-konten yang baik, periksa jejak selancar anak di komputer, dan sering-seringlah berkomunikasi dengan anak pada saat berinetrnet. Gali lebih jauh apa yang sudah dilakukan anak saat berinternet. Jika orangtua adalah orang tua yang sibuk. Maka carilah orang yang bisa dipercaya dalam menemani anaknya di rumah. Berikan amanah yang baik agar orang yang diamanahi bisa mengawasi anak kita dengan benar.

image: www.keepingpacewithkids.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: