70% untuk Siswa, 30% untuk Blog

Blogging, sudah menjadi aktivitas rutin saya. Bahkan saya bekerja di sana. Maksud saya, saya bekerja untuk blog-blog saya. Update konten, ber sosial marketing, mempromosikan produk-produk saya, launching produk baru, dan terus membangun banyak blog. Membangun brand dengan kicauan, dan media sosial lainya. Saya juga mesti melayani kontak persons dari calon pembeli produk saya, juga calon klien untuk jasa kreatif saya lainya. Dan kadang sms atau telpon yang menanyakan sesuatu tentang blogging, tentang topik tutorial yang saya buat di blog saya. Dan setiap hari juga saya mesti menyempatkan diri untuk membuka inbox email saya, inbox form order. Begitulah, ketika saya memutuskan untuk mempekerjakan diri saya lewat kreativitas blogging.

Lalu, berapa persen kah waktu saya untuk siswa-siswa saya? Begini, sedari awal saya meyakinkan pada diri saya sendiri bahwa Guru adalah bagian dari profesi pengabdin saya, walaupun toh saya mendapat penghargaan dalam bentuk nominal tiap bulanya. Tapi saya harap pada akhirnya tidak menuntut banyak dari sana. Waktu saya untuk siswa-siswa saya tetap paksakan sebagai prioritas, artinya tidak melampaui prosentase blogging saya. Mungkin prosentasenya 70% untuk siswa dan sisanya untuk blogging, ini bukan prosentase keseluruhan dari rutinitas saya, karena saya juga punya keluarga dan orang tua.

Pilih full timer Blogger atau Teacher ?

Kalau pertanyaanya pilih jadi full timer blogger atau guru saja, maka nantinya tidak ada jawaban. Sebab keduanya bukan harus di pilih salah satu, tapi di sinkronkan. Memilih salah satu untuk kemudian profesional di sana, itu bagian dari fokus artinya mau mendedikasikan seluruh waktu kerjanya untuk salah satu bidang tersebut. Tapi, toh keduanya merupakan bisa saling mendukung. Guru adalah profesi, dan blog (lebih ke aplikasinya) adalah media untuk kreatifitas, menuangkan gagasan, isu dan hal-hal positif lainya. Jadi, tidak harus memilih sebenarnya, keduanya saling melengkapi.

Ingin fokus di blog lantaran penghasilanya lebih besar? Kalau pertanyaanya demikian, itu kembali ke pribadi masing-masing. Kalau saya ya penghasilan bagian dari rasionalitas kebutuhan, tapi bukan “topik utama”. Ya, disesuaikan dengan target saja. Saya tetap memilih jadi Guru (berusaha porfesional) sesuai bidang akademik saya, dan (juga) blogger.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: