(tidak) Enggan Berinovasi

(tidak) Enggan Berinovasi| Menarik membaca tulisan-tulisanya pak Budi Rahardjo di blog pribadinya rahard.wordpress.com, dan sudah lama saya mengikuti blog beliau bahkan sejak pertama kali saya kenal dan mulai memberanikan diri untuk membuat dan menulis di blog saya ini. Judul posting kali ini (juga) terpengaruh tulisan pak Budi hari ini yang berjudul “sulit menerima inovasi”. Bedanya kalau pak budi membahas tentang e-banking, kalau saya tertarik dengan aktivitas guru kaitanya denga kreativitas mengajar baik dengan siswa dalam kelas maupun aktivitas mengajar diluar kelas (misalnya mengajar untuk guru lainya dalam forum, komunitas, dan lainnya).

Untuk apa sih Blog? Cuma buang-buang waktu saja, kita kan banyak kerjaan, membuat RPP, ngurusin nilai, menata kelas dan banyak lagi. Begitulah ketika pertama kali kita mencoba memperkenalkan blog ke rekan-rekan guru tentang aktivitas blogging. Selalu banyak alasan, bukan cuma kesibukan mempersiapkan dan “ngurusin” administrasi mengajar mereka yang kerap menjadi alasan tapi alasan kurang ngerti IT, enggak bisa internet juga menjadi senjata ampuh untuk mementahkan setiap ajakan untuk memulai aktivitas blogging. Dan ketika mereka mulai tahu perkembangan IT dan inovasi guru dalam memanfaatkan IT untuk media pembelajaran barulah mereka diam-diam membuat blog dan sebagian diantaranya berbisik-bisik “pa ajarin saya membuat blog!” (hmm).

Inovasi

Dalam perkembangannya, seorang guru mesti tahu dan menguasai teknologi, atau paling tidak mengetahui tentang perkembangan teknologi saat ini. Toh dalam banyak artikel sering mangatakan bahwa guru itu adalah manusia pembelajar, selalu ingin belajar dan membelajarkan orang lain. Lalu?

Masih ingatkah kita dengan papan tulis berwarna hitam, juga kapur tulis? Untuk rekan-rekan guru yang seumuran dengan saya pasti sangat akrab dengan benda-benda tersebut yang pada zamanya merupakan media pembelajaran nomor satu. Tapi belakangan benda-benda (yang dalam sejarahnya merupakan alat bantu yang mengantarkan Indonesi merdeka) tersebut mulai ditinggalkan dan beralih ke white board plus boardmaker. Pada mulanya kehadiran white board dan boardmaker dianggap ekslusif dan memboroskan anggaran sekolah saja, tapi pada akhirnya white board dan boardmaker itulah yang sering kita jumpai di ruang-raung kelas. Selalu ada alasan untuk menolak dan menerima inovasi baru, begitulah….white board juga boardmaker merupakan sebuah inovasi, pertama kali ada banyak penolakan tapi pada akhirnya orang mencarinya dengan alasan kebersihan, tidak polusi, dan nyaman.

Belakangan white board pun mulai sedikit di lupakan, terutama untuk proses pembelajaran tertentu. Kehdairan Infokus dan laptop kerap menggantikan posisi whiteboard. Dan lagi-lagi banyak yang menolaknya dengan alasan Infokus dan laptop itu mahal, tidak semua guru mampu mengoperasikan, membuat siswa jadi gemar menonton dan alasan-alasan lainya. Tapi lagi-lagi belakangan di banyak forum guru kita lebih sering menemukan infokus ketimbang whiteboard, dan belakangan sudah banyak sekolah yang menggunakan infokus untuk menunjang KBM. Bukan gengsi semata, sebab infokus ternyata memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa terutama untuk pembelajaran yang memerlukan banyak pengalaman. Siapa yang tidak senang ketika materi pelajaran “sejarah kemerdekaan” semua siswa mampu melihat dengan langsung video-video perang, melihat gambar-gambar tokoh perjuangan dan beberapa video aslinya, tentu pengalaman belajar seperti itu tidak mereka dapatkan jika guru mereka hanya mengandalkan white board.

Berinovasi

Dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) guru memegang peranan penting dalam keberhasilan materi yang disampaikan. Untuk itu kreatifitas guru sangat dibutuhkan. Kreatifitas mengajar, kreatifitas berkomunikasi, kreatifitas menyusun, merencanakan dan membuat media pembelajaran, dan kreatifitas dalam meningkatkan banyak kompetensi lainya. Jika kreatifitas tersebut terus dibangun, maka akan banyak sekali inovasi-inovasi yang bisa diberikan bagi perkembangan pendidikan.

Inovasi tersebut tentu kaitannya dengan media pembelajaran. Inovasi tersebut tidak harus WOW (isitlah anak zaman sekarang), cukup yang sederhana tapi bisa digunakan dan bermanfaat. Misalnya saja membuat media pembelajaran interaktif dengan PowerPoint, membuat media pembelajaran interaktif menggunakan Flash, membuat bank soal, membuat bank data seputar materi pembelajaran tertentu. Memanfaatkan blog untuk media pembelajaran, email, media penyimpanan online, jejaring sosial dan puluhan bahkan ribuan aplikasi gratisan lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk media pembelajaran. Itu semua inovasi…..

sumber image: humancapitaladviser.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: