Cium Tangan Yang Benar Itu Seperti apa?

Seperti biasa setiap hari jum’at kami (guru dan siswa siswa laki-laki kelas 1 sampai kelas 6) sholat berjamaah di Masjid. Tidak seperti sekolah umum yang (biasanya) mem(p)ulangkan siswa lebih awal di hari jum’at, kami pulang seperti biasa saja jam 15.30-an. Dan hari jum’at merupakan proses pembiasaan kepada siswa laki-laki untuk mengerjakan sholat jum’at sejak dini. Walaupun untuk proses pembiasaan ini kadang banyak pertentangan, ada yang mengatakan anak-anak itu tidak di wajibkan sholat jum’at dan malah akan membatalkan syarat syah sholat jika bersentuhan dengannya waktu sama-sama dalam shaf, maklum anak kecil kadang pipis saja tidak cebok (dan itu bagian dari njis). Terlebih prilaku anak-anak yang sulit dikendalikan (seperti ngobrol, becanda, dan tidak mau diam) malah akan mengganggu kekhusyukan ibdah orang lain.

Tapi sudah lah, mengajak sholat jum’at bagi kami adalah proses pembelajaran, dimana didalamnya ada pembiasaan, respek, sosialisasi dan nilai-nilai relijius lainya. Pembiasaan di waktu kecil kami yakin akan menjadi pondasi yang kuat dalam pembentukan karakter anak-anak kami ketika sudah besar nanti. Jadi kalau iklan teh botol mengatakan…apapun makanannya minumnya teh …, maka kami pun mengatakannya demikian, apapun alasannya pembiasaan adalah modal karakter.

Salaman

Setelah imam menutup salam yang terakhir, dan do’a siswa pun berhamburan dari shafnya. Dan “menyalami” guru merupakan budaya hormat yang turun temurun dilakukan siswa terhdap gurunya, begitupun siswa kami setiap selesai sholat berjamaah hal pertama yang dilakukan sebelum membubarkan diri dari jamaah adalah menyalami guru terlebih dahulu.

Pada saat bersalaman inilah saya menemukan banyak sekali varian dan style bersalaman siswa-siswa saya. Ada yang mencium tangan saya ke (maaf) jidatnya, ke pipinya, ke bibirnya, bahkan ada yang mencium tangannya sendiri. Saya merasa “geli” melihat model salaman siswa tersebut, karena setahu saya kalau bersalaman dengan model cium tangan ya harus mencium tangan orang yang diajak salaman, bukan malah mampir ke dahi, pipi atau malah mencium tangan sendiri.

Tapi, kelakuan siswa saat bersalaman tersebut apa (benar) karena tabi’at siswanya? Atau karena belum pernah diajarkan salaman yang benar itu seperti apa?

reff image: http://www.pikiran-rakyat.com/node/187211

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: