Bolehkah Guru Marah?

Saya masih ingat waktu masih SD, sering sekali saya melihat guru saya marah-marah lantaran materi pelajaran yang beliau sampaikan tidak juga kami pahami. Biasanya ketika beberapa anak tidak mampu mengerjakan soal latihan, karena anak tersebut (mungkin) tidak memperhatikan atau mungkin lantaran anak tersebut tidak menyukai pelajaran yang diajarkan(karena faktanya tidak semua siswa mesti menyukai dan menguasai semua mata pelajaran). Begitulah masa-masa SD saya dulu, dan terulang di masa SMP maklum saya sekolah di era transisi model pembelajaran, sebelum H.A.M datang menjustifikasi.

Saya yakin yang sekolah di era 98-an kebawah pasti familiar dengan kapur melayang, penghapus mampir di muka siswa, dan hukuman fisik lainnya yang dilakukan guru (tidak semuanya) kepada siswa-siswa yang “bermasalah”. Cara -kekerasan-seperti itu mungkin dianggap paling ampuh untuk mendisiplinkan siswa pada waktu itu. Dan memang kami semua (terpaksa) disiplin. Berusaha datang pagi-pagi, memakai pakain seragam(pakaian, sepatu), patuh dan hormat (berlebihan) sama guru, belajar sungguh-sungguh (padahal tegang) di kelas. Kenangan masa-masa sekolah dulu tersebut bukan untuk mengingatkan kembali “kenangan belajar yang dianggap salah” pada masa sekarang, karena ternyata menurut penelitian model belajar seperti itu tidak baik.

Bolehkah guru marah?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya sangat senang mendengar lagu yang dibawakan Candil personil Serius Band “Rocker juga Manusia”. Maksudnya, saya juga ingin mengatakan “Guru juga manusia”. Sebagai manusia biasa guru juga kerap melakukan tindakan bodoh yang sebenarnya itu tidak pantas, seperti marah tersebut. Menurut rekan saya kalau guru marah itu boleh yang tidak boleh adalah marah-marah.

Para ahli psikologi modern memandang kemarahan sebagai suatu emosi primer, alami, dan matang yang dialami oleh semua manusia pada suatu waktu, dan merupakan sesuatu yang memiliki nilai fungsional untuk kelangsungan hidup. Kemarahan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif. Namun, kemarahan yang tak terkendali dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup pribadi dan sosial (reff: wikipedia).

Jadi, kalau guru marah sebenarnya itu prilaku manusia pada umumnya alias alami. Yang tidak diperbolehkan adalah marah yang sampai tidak terkendali hingga melakukan tindakan fisik terhadap siswa, sehingga siswa mengalami “trauma” secara fisik dan non fisik (mental dan spiritual).

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: