Jangan menganggap (siswa) Bodoh!

Tulisan ini terinsfirasi dari postingnya pak Budi Rahardjo kemaarin yang berjudul (menganggap bodoh) orang. Sekalipun tidak panjang -memang begitulah gaya posting pak Budi Rahardjo-tapi sangat menarik. Dan saya yakin tulisan tersebut realistis dan banyak manfaatnya, setidaknya ketika membaca tulisan tersebut akan menjadi telaah diri, seperti itulah anggapan saya.

Dalam tulisan tersebut ada kejujuran dari seorang Budi Raharjo seorang dosen dengan aktivitas dan kreativitasnya yang jika ditulis dengan catatan kertas tidak akan selesai 10 halaman. Dan mengisahkan kembali satu cerita menarik dari perjalanan hidupnya tersebut saya tidak berani me-resicle nya, untuk itu saya copas saja biar tidak ada kisah yang terputus:

Dalam perjalanan hidup saya (ketika masih muda), beberapa kali saya ketanggor. Meremehkan orang untuk kemudian mendapati bahwa orang tersebut lebih tahu dari saya. Duluuu sekali saya pikir saya mengerti banyak soal komputer. Di sebuah bis perjalanan luar kota antar propinsi di Amerika, saya dapati seorang tua yang terlihat seperti gembel. Dia mengenakan parka ala tentara dengan menggendong karung yang mungkin berisi baju-bajunya. Tentu saja saya tidak mengira bahwa dia tahu banyak soal komputer. Ketika saya membuka majalah komputer dan membacanya, maka dia mulai mengajak bicara soal komputer. Ternyata dia tidak sebodoh yang saya perkirakan. Jauh melesetnya. Betapa bodohnya saya! Pelajaran seperti ini membuat saya tidak berani memandang rendah orang lain. Siapa tahu justru mereka adalah pakarnya.

Di kejadian lain saya menemui biker kekar yang saya kira tadinya pembuat onar. Eh, ternyata dia pakar desain chip dari sebuah perusahaan besar. Demikian pula saya dapati dosen yang kurus kering ternyata dia adalah pendaki yang handal, yang menghabiskan waktu liburnya untuk mendaki gunung-gunung tertinggi di berbagai tempat di dunia. Dan tentu saja masih banyak contoh-contoh lain. Untungnya saya mau belajar :)

Sering saya tersenyum-senyum melihat anak muda yang merasa paling jago di bidangnya. Ah, mereka masih muda. Biarlah mereka menemukan “pelajaran”nya sendiri-sendiri. Dan semoga mereka belajar (untuk tidak menganggap orang lain bodoh) sehingga ketika mereka lebih tua, mereka tidak membuat alasan-alasan bodoh yang sering saya jumpai akhir-akhir ini.

Posting blog pak Budi Rahardjo tersebut menjadi telaah bagi kita semua, khususnya saya. Sering kita menganggap oran lain bodoh, sering menggap orang lain itu tidak lebih pintar atau paham dari kita, dan lebih spesifiknya kita sering menggap siswa kita itu bodoh hanya lantaran melihat orang tersebut dari cara berpakaiannya. Pakaian disini saya perluas dengan sikap dan gaya (style) nya. Dan spesifik untuk siswa,  ketika kita melihat siswa tidak mampu dalam mata pelajaran tertentu, kita (mungkin: dengan tidak disengaja) akan menganggapnya bodoh. Padahal siswa kita tersebut hanya belum bisa dalam mata pelajaran tersebut sedangkan untuk mata pelajaran lain mungkin akan lebih baik. Jika introveksi lebih dalam sebenarnya, apa siswa kita yang bodoh atau kitanya yang tidak mampu menyampaikan materi dengan benar kepada siswa kita tersebut?

Sumber: rahard.wordpress.com

image: tunmama.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: