Berhenti Sebentar dan Kerjakan Sholat, atau Lanjutkan Perjalanan dan Abaikan Sholat?

Untuk sebagian orang mungkin closed duduk merupakan tempat buang hajat yang nyaman, tapi tidak untuk saya yang terbiasa jongkok. Bukan cuma itu, saya pun merasa tidak nyaman dengan cara “cebok” yang terlalu otomatis tersebut dan saya masih berpikir cara cebok seperti itu malah membuat pakaian “kecipratan” hal yang bakal membuat sholat saya tidak syah menurut fikih yang saya pahami.

Pernahkah anda bepergian dan lupa sholat?
Atau sengaja mengabaikan sholat dengan alasan sedang dalam perjalanan, dan memilih “ruhsoh” dengan ja’ma sholat yang diabaikan tersebut?

Islam memang selalu memudahkan umatnya untuk mengerjakan kegiatan ibadahnya, disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan. Ketika dalam perjalanan jauh kita dibolehkan untuk menja’ma sholat agar perjalanan kita tidak terhambat (tentu alasan ini mesti sesuai dengan ukuran dan aturan fikih yang benar).

Kemarin saya bersama siswa kelas 6 mengadakan rihlah ke Kawasan Wisata Air di Cikarang, Bekasi. Perjalanan dari Sekolah ke tempat tujuan hanya memakan waktu 2,5 jam dengan kecepatan sedang karena langsung masuk Tol. Sesampainya disana langsung menikmati wisata air, saya sendiri memilih untuk berjalan-jalan saja karena “selera” berlibur saya lagi tidak bagus. Selama disana saya hanya melihat-lihat tempat yang sebenarnya tidak terlalu mengasyikan untuk saya, hanya ada air dan air, selebihnya outbond, dan prosotan dan lainnya makan-makan hal yang sebenarnya bisa kami dapatkan di kawasan wisata air yang sama yang terletak hany beberapa menit saja dari Sekolah kami.

Waktu Dzuhur

Tak terasa sudah jam 12.10, dan saya tidak mendengar suara adzan, entah lantarann bisingnya suara aneka jenis bunyi dari mulai gemercik air, jerit, ketawa, musik, dan bunyi-bunyi lainnya yang membuat kuping saya jadi “tuli” akan kumandang adzan. Saya bersama rekan guru segera mencari tempat sholat, dan seperti biasa ditempat-tempat hiburan manapun tempat sholat selalu disembunyikan didesain sebisa mungkin agar samar tak terlihat dan letaknyapun selalu sama yaitu berdampingan dengan toilet.

Agar sholat saya tenang maka tak lupa saya mampir dulu ke kamar kecil untuk buang hadas, dan disini pula sebagai “orang ndeso” saya menemukan hal yang tak biasa buat saya, closet duduk, dan tempat buang hadas laki-laki yang berdiri. Dan saya harus memilih berdiri atau sambil duduk, kali ini saya memilih yang duduk karena saya takut kalau memilih yang erdiri takut dibilang “guru kencing berdiri murid kencing berlalri” alias tidak sopan jika tiba-tiba ada siswa saya yang juga ingin buang hadas disana.

Untuk sebagian orang mungkin closed duduk merupakan tempat buang hajat yang nyaman, tapi tidak untuk saya yang terbiasa jongkok. Bukan cuma itu, saya pun merasa tidak nyaman dengan cara “cebok” yang terlalu otomatis tersebut dan saya masih berpikir cara cebok seperti itu malah membuat pakaian “kecipratan” hal yang bakal membuat sholat saya tidak syah menurut fikih yang saya pahami.

Tapi begitulah cara-cara tidak baik (sebenarnya) yang dikira modern. Kadang kita sering mencemooh cara hidup kaum primitif dibelahan belantara sana yang tidak berpakaian dan cara hidup yang tidak lumrah, tapi pada kenyataannya kitapun mulai melakukan cara-cara primitif tersebut. Buktinya di tempat wisata ini banyak orang yang tidak merasa “malu” lagi berpakaian tidak menutup aurat, malah cenderung mulai telanjang. Ya, namanya juga ditempat wisata…..! tempat yang dibuat hanya untuk memalingkan nikmatnya ibadah saja. memalingkan hal-hal yang sebenarnya lebih pantas dilakukan ketimbang berleha-leha dan membuang rezeki dengan cara mubadzir.

Sudahlah, hanya ada 1 kran untuk wudhu. Dan sisanya kran-kran untuk membilas badan dan ruang ganti. Bayangkan 1 keran untuk sepersekian ribu manusia yang saya yakin kebanyakan diantaranya adalah muslim. Dari 1 keran yang tersedia saja sudah menunjukan itikad tidak baik tentang bagaimana cara menghormati kebebasan beragama kaum mayoritas di negeri ini.

1 kran wudhu ditempat tersebut memang sesuai dengan luas mushola yang hanya cukup untuk sekitar 6 orang ( 1 imam, 5 makmum) untuk durasi waktu 5 menit. Tapi mana mau orang-orang menunggu berjamaah sebab hal tersebut cuma membuang waktu sholat saja, jadilah sholat ditempat tersebut munfarid dengan pola sholat yang seperti diuber-uber tank baja dimedan perang.

Melewatkan Maghrib

“Astagfirullah!” hanya kalimat itu yang bisa dilakukan mewakili sangat tendahnya keimanan saya ketika Bus yang kami tumpangi tetap saja melaju kencang padahal kumandang adzan begitu jelas terdengar dari banyaknya Masjid yang kami lewati. Dan dasar keimanan saya sangat rendah, cuma diam dan tidak melakukan apapun untuk mengajak berhenti sebentar untuk melakukan sholat maghrib. Sebagian rekan memang sudah mendahulukan sholat maghribnya di waktu asyar tadi, dan yang lainnya tidak melakukannya dengan alasan perjalanan yang kami lakukan lebih banyak maksiatnya ketimbang kebaikannya, alasan tersebut memang logis. Tapi tidak logis jika saya dan teman-teman yang meyakini perjalan ini bukan yang termasuk kedalam syarat mendahulukan sholat malah melewati magrib begitu saja, artinya mendahulukan tidak mengerjakan pun tidak, dan sudah jelas dosa yang tidak bisa terelakan lagi menanti.

1. Bukan berpergian maksiat .

2. Jarak yang akan ditempuh, sedikitnya berjarak 80,64 km. (mazhab Syafii)

3. Berniat jama’ taqdim dalam sholat yang pertama ( Dhuhur / Maghrib).

4. Tartib, yakni mendahulukan sholat dhuhur sebelum sholat ashar dan mendahulukan sholat maghrib sebelum sholat isya’.

5. Wila, yakni setelah salam dari sholat pertama, segera cepat-cepat melakukan sholat kedua, tenggang waktu anatara sholat pertama dengan sholat kedua, selambat-lambatnya, kira-kira tidak cukup untuk mengerjakan dua roka’at singkat.[1]

Pentingnya Memenej Perjalanan

Dari pengalaman tersebut, saya menyadari betapa pentingnya pengaturan waktu (manajerial waktu) ketika hendak bepergian agar hal-hal yang prinsip (seperti sholat) tidak menjadi pilihan kesekian dibanding dengan tujuan utamanya (misal tamasya,dll.). Setelah mikir-mikir ada bebeapa hal penting yang semestinya kita persiapkan ketika hendak melakukan perjalanan yang sifatnya terukur (bisa di prediksi jarak tempuhnya):

  • Rute, jalan mana saja yang akan dilewati hingga ketempat tujuan. Apakah ada Jalan alternatif, yang memungkinkan cepatnya perjalanan.
  • Prediksi hal-hal yang dapat menghambat perjalanan, misal macet, isi bensin, mabok perjalanan, dan lainnya kemudian cari solusinya sebelum perjalanan.
  • Waktu tempuh, sebaiknya kita dapat memprediksi berapa waktu tempuh (maksimal) agar kita tahu apakah dengan waktu tempuh tersebut akan mengganggu waku sholat atau tidak, dan segera cari solusinya.
  • Persiapkan waktu untuk mengerjakan sholat, beri tahu sopir bahwa ketika waktu sholat tiba untuk berhenti dan mengerjakan sholat.

Demikian catatan kecil Rihlah kemarin, mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada rekan-rekan yang akan melakukan Rihlah agar rihlahnya tidak serta merta meninggalkan sholat!

Ref:

[1] http://www.pesantrenvirtual.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: