Hati-hati prestasi anak menurun gara-gara internet

Pada pertengahan oktober 2011 kemarin, penulis mendapati banyak keluhan dari para orang tua siswa, itu terjadi saat evaluasi bareng orang tua siswa pasca ulangan umum tengah semester. Dan diantaranya orang tua siswa banyak yang mengeluh anaknya sering menghabiskan waktunya di warnet, bermain internet berlama-lama sampai menghabiskan waktu untuk belajar.

Dari prilakuan  anaknya tersebut para orang tua siswa mendapati anaknya mulai malas dalam belajar, sering membantah, lupa makan, dan kecenderungan negatif lainnya. Dan pada akhirnya para orang tua siswa mulai mengeluh menurunnya prestasi anaknya hal tersebut diindikasikan dengan banyaknya nilai yang tidak maksimal di buku rapot anaknya.

Sebagai guru penulis coba menampung semua keluhan tersebut dan mencoba pula memberi beberapa solusi yang pernah penulis baca, maklum sebagai seorang guru penulis belum mempunyai empiris mengenai cara menangani anak di rumah ( anak penulis baru 6 bulan). Dan coba menanganinya beberapa anak yang bermasalah tersebut di kelas dengan lebih intensif. Dan untuk masalah anak yang mempunyai kecenderungan dengan internet, penulis mencoba mencari kebenaran-kebenaran dari beberapa orang yang telah meneliti pengaruh internet terhadap perkembangan prilaku dan prestasi anak dari beberapa sumber di internet.

Internet sebagai teknologi budaya saat ini tidak mungkin dihindari kecuali kita mempunyai maksud untuk mundur ke perkembangan teknologi terbelakang. Dampak lain dari internet adalah terhadap perubahan kultur, termasuk didalamnya adalah anak-anak sebagai subyek yang nantinya juga merupakan bagian dari pengguna teknologi ini.

Konten-konten berbahaya yang didalamnya mengandung unsur pornografi, sadisme, sara dan konten dewasa lainnya bisa dengan mudah ditemukan oleh anak-anak. Saling terkaitnya antar kata kunci dari satu situs dengan situs lainnya memungkinkan indeks pencarian dari mesin pencari semacam google menjadi tidak spesifik. Misalnya saja kita mengetikan kata kunci “permainan” maka yang disajikan oleh google tidak spesifik ke suatu situs yang benar-benar menyajikan konten permainan.

Bagaimana konten internet bisa mempengaruhi prilaku anak?

Penulis belum menemukan artikel yang benar-benar valid dalam mengungkap pengaruh internet terhadap prilaku anak di internet ( mungkin belum ada akademisi yang rela membagi penelitiannya di internet ), tapi penulis menemukan banyak sekali artikel yang berhubungan dengan permasalahan tersebut, yang kemudian penulis coba untuk mempersepsikannya sendiri agar lebih mudah dipahami.

Intenrnet menyediakan banyak konten menarik. Konten menarik ini terbagi menjadi beberapa jenis konten yang sangat variatif dan spesifik. Misal konten pendidikan, konten ini menyediakan berbagai informasi seputar pendidikan dengan pilihan media informasi yang beragam, misal artikel, video, news letter, tutorial dan modul. Konten pendidikan masih terbagi menjadi beberapa jenis konten yang lebih spesifik, misal konten pendidikan untuk SD, SMP, SMU, PT dan umum, dan didalam konten pendidikan yang sudah spesifik tersebut masih di bagi lagi menjadi beberapa jenis konten pendidikan untuk SD yang lebih spesifik, misal konten pendidikan untuk SD hanya untuk mewarnai, puisi, dan seterusnya.

Seperti itulah gambaran konten-konten dalam internet, sekalipun semua di spesifikasikan untuk kalangan dan target pembaca tertentu ( walaupun banyak konten yang disajikan tanpa target pembaca yang jelas) tapi tak ada jaminan konten-konten tersebut hanya dibaca oleh kalangan dan target pembaca yang sesuai.

Semua konten tersebut bisa diakses dengan mudah oleh siapapun, termasuk anak-anak. Maka tak ada jaminan pula ketika anak-anak mengakses internet tidak menemukan konten-konten yang sebenarnya bukan disajikan untuk usia mereka. Konten – konten yang mengandung unsur pornografi, sadisme, rasis, dan konten berbahaya lainnnya bisa dengan mudah ditemukan.

Saling terhubungnya antar situs, penggunaan kata kunci yang tak wajar ( yang biasa digunakan oleh para blogger untuk mendongkrak trafik ), teknik SEO yang tidak fair, membuat indeks data yang ditampilkan mesin pencari semacam google dari sebuah kata kunci yang kita tuliskan menjadi tidak spesifik.

Misal kita menuliskan kata kunci “permainan” maka yang ditampilkan oleh mesin pencari bukan saja situs – situs yang menampilkan konten permainan (game), melainkan situs X lainnya pun dengan kata kunci sama akan terindeks dan ditampilkan oleh Google.

Maka tidak heran jika 90% anak usia 8-16 tahun telan membuka sistus porno di internet. Rata-rata anak usia 11 tahun membuka situs porno untuk pertama kalinya. Yang lebih memiriskan adalah rata-rata anak-anak tersebut membuka situs prono disela-sela mengerjakan pekerjaan rumah / PR ( data diperoleh dari Ketua badan pengurus nasional Asosiasi Warung Internet Indonesia, Irwin Day. Pada 25 Juli 2008, dikutip dari harian Media Indonesia).

Jika anak-anak usia 11 tahun telah membuka situs porno pada tahun 2008, maka dengan mudah dan murahnya akses internet saat ini anak-anak kita sangat rentan untuk melakukan hal yang sama.

Bagaimana peran guru TIK di sekolah?

Guru adalah bagian terpenting dalam proses pembentukan karakter anak, sebab guru adalah orang yang menerapkan metode dan model-model pembelajaran yang nantinya akan berpengaruh pada kehidupan anak didiknya kelak.

Peran guru TIK dalam memproteksi prilaku yang memungkinkan anak-anak / siswa untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas berkenaan dengan penyalahgunaan konten internet oleh anak-anak tersebut.

Guru TIK mempunyai tanggung jawab untuk mensosialisasikan pendidikan internet secara lengkap, artinya pendidikan tersebut tidak setengah-setengah hanya mencakup ketuntasan secara kurikulum saja, dengan targetnya siswa mampu menggunakan internet. Padahal materi dari pendidikan internet harus lah tuntas, tuntas baik secara materi maupun tuntas secara moral.

Tuntas secara materi artinya guru telah menyampaikan materi pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum, dengan indikatornya siswa mampu menggunakan internet. Sedangkan  tuntas secara moral artinya tuntas dalam menyampaikan akibat / potensi ( negtatif atau positif ) dari semua yang telah diketahui siswa tersebut dalam pembelajaran internet, dan guru TIK wajib merefleksi hal-hal yang seharusnya dihindari oleh siswa sebagai dampak negatif dari internet.

Apa yang harus dilakukan guru TIK untuk mencegah anak didiknya berinteraksi dengan konten-konten tidak pantas di internet nanti akan penulis bahas pada artikel selanjutnya.

Bagaimana peran orang tua di rumah?

Orang tua memiliki peran dominan untuk anak-anaknya. Orang tua memiliki hak otoriter dalam menerapkan disiplin untuk anak-anaknya. Orang tua memiliki tanggung jawab penuh atas apapun yang dilakukan anak-anaknya.

Hal yang menyebabkan anak-anak menyalahgunakan kebebasannya saat berinternet adalah tidak adanya peran orang tua yang bertanggung jawab atas semua fasilitas dan kebebasan tersebut. Banyak orang tua yang hanya menyediakan fasilitas untuk kemajuan teknologi anak-anaknya tapi tidak melakukan proses selanjutnya. Demikian halnya dengan fasilitas koneksi internet, setelah memfasilitasi anaknya untuk bisa terhubung dengan jaringan internet kebanyakan orang tua melepas begitu saja anaknya untuk menikmati sebebas-bebasnya koneksi internet tersebut.

Padahal semestinya orang tua memegang aturan yang jelas terhadap kebebasan anaknya dalam menggunakan internet. Aturan-aturan tersebut diantaranya alokasi waktu penggunaan internet, kapan anak boleh menggunakan internet, berapa lama anak boleh terhubung dengan internet. Situs – situs yang hendak dikunjungi anak pun orang tua harus tahu, dan untuk apa anaknya mengunjungi situs tersebut.

Temani anak saat menggunakan internet. Jangan sekalipun membiarkan anak sendirian saat terhubung dengan internet. Peran orang tua saat menemani anak sebagai penasihat dan pemandu ( guide ), karena bisa saja anak kita menemukan konten yang tidak pantas. Dan ketika tiba-tiba anak kita menemukan konten yang tidak pantas disinilah peran orang tua dibutuhkan untuk memberitahukan apa sih situs tersebut, dan memberikan pengetahuan yang tepat untuk melarangnya mengunjungi situs tersebut dikemudian hari serta memberikan alasan yang cukup kenapa situs semacam itu tidak boleh dikunjungi.  Bagaimana peran orang tua dalam menemani anaknya saat ber internet, akan penulis bahas pada artikel selanjutnya.

Orang tua harus lebih pintar dari anaknya. Lebih pintar disini maksudnya agar orang tua tidak ketinggalan satu langkah dari anaknya mengenai internet, entah itu pengetahuan tentang situs – situs yang populer dikunjungi oleh anak-anak, teknik dan trik mengawasi anak saat berinternet, pengetahuan tentang software untuk mengawas anak saat berinternet, dan pengetahuan pendukung lain mengenai psikologis anak. Materi orang tua harus lebih pintar dari anaknya ini akan penulis ulas pada artikel berikutnya.

Apa benar internet mempengaruhi prestasi anak?

Baca terus artikel pada halaman ini, karena penulis akan memperbaruinya secara berkala.

Bersambung>>……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: