Google:antara mencerdaskan dan membodohkan

Google siapapun peselancar data, pasti mengenal mesin pencari yang satu ini. Mesin pencari populer yang sampai saat ini belum ada yang menandinginya. Nyasris semua orang yang tau dan mengenal internet pasti berurusan dengan mesin pencari ini, terlebih mereka yang tengah memerlukan banyak referensi. Mesin pencari ini seperti pemberi solusi untuk menjawab semua kebutuhan yang berurusan dengan informasi. Puluhan bahkan mungkin jutaan data dari bermacam informasi tersimpan di lemari arsip, tempat penyimpanan data mesin pencari ini.

Tapi lantaran kemudahan mencari informasi itulah seseorang cenderung mengurangi aktivitas berpikirnya. entah sengaa atau tidak seseorang yang tengah membutuhkan banyak referensi yang bersipat akademis sekalipun lebih asyik mengklik satu persatu link yang berhubungan dengan kata kunci dari informasi yang dicarinya. Banyak mahasiswa yang lebih memilih mengerjakan tugas-tugas kuliahnya lewat tangan orang lain yang ia temukan di mesin pencari seperti Google ketimbang berlama-lama mikir. Begitupun dengan dosen, guru dan profesi mengajar lainnya ada kecenderungan lebih memilih Google dalam menyiapkan bahan mengajarnya ketimbang menghabiskan waktunya untuk merangkum dari satu buku ke buku lainnya, entah itu untuk membuat modul atau LKS dan lain sebagainya.

“Untuk apa berlama-lama menghabiskan waktu, jika hasilnya sama.” begitulah alasan rekan penulis ketika mengerjakan tugas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai tugas akhir kegiatan Gugus Bermutu. Pernyataan tersebut bukan keluar dari satu dua orang melainkan dari banyak orang, bukan cuma guru tapi rekan lainnya seperti mahasiswa.

Google memberi banyak kemudahan, mencari sesuatu tinggal menuliskan kata kuncinya saja tekan enter langsung ada. Bisa kita bayangkan ketika beberapa puluh tahun yang lalu, ketika mesin tik masih menjadi pilihan paforit mereka yang berurusan dengan pengetikan, ketika perpustakaan jadi pilihan utama setiap kali seseorang berurusan dengan referensi pustaka. Betapa banyak pengorbanan waktu dan tenaga. Untuk membuat sebuah karya ilmiah seseorang harus intens keperpusakaan, membaca berulang, merangkum dan memindahkannya kedalam catatan sebelum akhirnya menjadi referensi untuk karya ilmiahnya.

Berbeda dengan saat ini, ketika internet bisa ditemui dimana saja. orang tinggal buka Google dirumahnya atau paling tidak datang Kewarnet, dengan sewa beberapa ribu rupiah saa orang bisa mengumpulkan puluhan referensi yang bisa disimpan langsung kemedia penyimpanan eksternal seperi flashdisk, yang tinggal edit sedikit tanpa harus menyusun kembali kalimat-kalimat dari referensi itu. istilah Copy and Paste pun menadi lumrah dan biasa saat ini.

Apakah Google Membuat Pintar?

Dengan ribuan bahkan jutaan arsip informasi dari berbagai sumber data yang bisa ditampilkan mesin pencari sekelas Google, tidak dipungkiri memudahkan seseorang dalam menambah perbendaharaan pengetahuannya. Beberapa informasi yang tidak diperolehnya dibangku sekolah atau kuliah bisa dengan mudah diperolehnya lewat Google. Sesuatu yang tadinya sulit karena faktor tertentu semisal alasan legalitas dan hak intelektual lainnnya yang mempersulit seseorang memperolehnya, di mesin pencari sekaliber Google bisa saja ditemukan.

Tak ada batasan atau sekat yang mempersulit seseorang dalam memperoleh keingintahuannya di Internet dan Google menyajikannya secara murah.  Makanya tak heran jika  ada perspektif tak ada Guru yang lebih pintar dari murid, Dosen yang lebih tahu dari mahasiswanya. Sebab ketika seseorang sudah tahu Google semuanya bisa didapat, dan tak aneh Jika siswa atau mahasiswa lebih tahu dari guru atau dosennya.

Melihat kenyataan tersebut, pasti kita mengakuinya Google membuat seseorang adi lebih tahu. dan dengan pengetahuannya tersebut seseorang mungkin akan jadi lebih pintar.

Lalu apakah google membuat pintar atau bodoh seseorang?

Banyak persefsi tentang pertanyaan tersebut, ada yang mengatakan Googe membuat pintar tapi tak sedikit yang mengatakan malah sebaliknya, bahwa google membuat bodoh. dari semua persefsi tersebut mempunyai alasannya sendiri-sendiri. yang mengatakan google membuat pintar memberi alasan bahwa google memberi banyak pengetahuan dan itu didapat secara gratis. dan yang mengatakan google membuat bodoh memberi alasan bahwa dengan adanya google membuat orang jadi malas, bukan bodoh sih. tapi malas kecenderungan asosiasinya adalah bodoh.

Nah Kecenderungan bersikap malas lantaran ada google ini sepertinya yang terjadi saat ini, semua hal selalu digampangkan dengan google. istilah ” Ke Google ajach…!” menjadi bahasa lazim seseorang ketika dihadapkan pada tugas kuliah, tugas sekolah, dan tugas-tugas lainnya yang berhubungan dengan data, dan karya tulis. Dan ini legal dalam hal tersebut sejauh melampirkan sumber url nya kan?

Pentup

Ini perspektif penulis; Google atau mesin pencari lainnya dan internet sebagai aflikasinya hanya sarana bantu yang siapapun berhak menggunakannya sesuai keinginannya. Bisa menjadi bermanfaat jika digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, tapi bisa menjadi tidak bermanfaat jika digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Persoalan membuat pintar atau bodoh itu tidak ada kolerasinya, sebab untuk menjadi pintar atau seseorang perlu proses dan test, Google hanyalah bagian dari bagian penunjang dari proses itu. Sedangkan bodoh, sebenarnya tak ada seseorang yang bodoh hanya bagaimana seseorang tersebut dalam menjalani proses untuk pintar tersebut, jika ia malas maka kemungkinan untuk bisa pada suatu keahlian tertentu akan lambat. Tapi jika sebaliknya rajin maka hasil akhirnyapun tentunya maksimal. Jadi bagaimana menggunakan Google sebaik mungkin dengan tidak melupakan proses lainya tak ada persesfsi bahwa Google membuat bodoh. Wallahualam bishwab!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: