Strategi dan inovasi Sekolah Dasa Islam Terpadu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

STRATEGI DAN INOVASI PEMBELAJARAN SISWA SD

 

Berikut ini adlah   tulisan dari dua blog yang saya buka untuk mengrtahui bagaimana strategi  dan inovasi dalam metode pembelajaran untuk SD islam terpadu.

Tulisan ini sangat bagus untuk disimak terlebih bagi insan pengajar  , khususnya yang mengajar di SD islam terpadu . .

 

Selamtat membaca dan memprktekan ditempat anda !

Apr 1, ’08 6:36 AM
for everyone

STRATEGI DAN INOVASI PEMBELAJARAN SISWA SD

 

Ibarat seorang jenderal dalam kemiliteran, guru dituntut memiliki siasat atau strategi dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Strategi dalam belajar mengajar dimaksudkan untuk mensiasati anak didik agar terlibat aktif belajar. Kemampuan guru dalam memahami dan mengimplementasikan strategi (mengajarnya) merupakan hal yang sangat penting dalam semua peristiwa belajar mengajar.

Kata Strategi berasal dari kata Strategos (Yunani) atau strategus. Strategos berarti jenderal atau perwira negara (state officer). Jenderal inilah yang bertanggungjawab merencanakan suatu strategi dan mengarahkan pasukannya untuk mencapai kemenangan, begitupun tanggungjawab guru dalam kelas mensiasati anak didik sehingga tercapai tujuan pembelajaran peserta didiknya.untuk itulah diperlukan inovasi pembelajaran peserta didik,dalam hal  ini pembelajaran untuk siswa SD.

Dalam perkembangannya, konsep strategi telah digunakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi pendidikan.Implementasi konsep strategi dalam kondisi belajar mengajar ini sekurang – kurangnya melahirkan pengertian berikut.

  1. Strategi merupakan suatu keputusan bertindak dari guru dengan menggunakan kecakapandan sumber daya pendidikanyang tersedia untuk mencapai trujuan melalui hubungan yang efektif antara lingkungan dan kondisi yang paling menguntungkan.
  2. Strategi merupakan garis besar haluan bertindak dalam mengelola prosese belajar mengajar untuk mencapaio tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
  3. Strategi dalam proses belajar mengajar merupakan suatu rencana yang dipersiapkan secara seksama untuk mencapai tujuan – tujuan  belajar.
  4. Strategi merupakan pola umum perbuatan guru-peserta didik didalam  perwujudan kegiatan belajar mengajar .

 

Perlu dijelaskan pula, bahwa strategi belajar mengajar bukan desain instruksional seperti PPSI (Prosedur pengembangan sistim instruksional), Satpel (Satuan Pelajaran) atau sejenisnya, Strategi belajar mengajar lebih luaas dari semua itu. Mempertimbangkan suatu strategi bearti mencari dan memilih model dan pendekatan proses belajar mengajar yang didasarkan atas karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik dan kondisi lingkungan serta tujuan yang akan dicapai.

Dengan kata lain strategi belajar mengajar merupakan siasat guru untuk mengoptimalkan interaksi antara peserta didik dengan komponen komponen lain dari sistem instruksional secara konsisten.

Berbicara strategi belajar mengajar, tidak bisa dipisahkan dengan metode mengajar. Karena metode ini merupakan cara – cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pengajaran yang menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan. Sunaryo (1995) menunjukan adanya pola dasar yang menjadi rujukan dalam rangka implemetasi DAP (Developmentally Appropriate Practice).

Sebenarnya metode mengajar yang dapat dipelajari guru sesuai dengan pola dasar tersebut adalah demikian banyak. Akan tetapi yang akan diperkenalkan paling tidak dengan 10 metode mengajar, yaitu metode ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, pemberian tugas, demonstrasi, simulasi, inkuiri dan metode pengajaran unit-pembelajaran terpadu.

Dalam kesempatan ini penulis akan menyampaikan dua metode terakhir yaitu metode inkuiri dan metode pengajaran unit. Karena metode ini merupakan metode yang relatif baru yang diperkenalkan kepada guru-guru bersamaan dengan meluasnya CBSA. Metode inkuiri disebut juga metode penemuan yang sangat penting untuk dilakukan peserta didik usia sekolah dasar.

Metode inkuiri ini dapat dirancang penggunaannya oleh guru menurut kemampuan mereka atau menurut tingkat perkembangan intelektualnya. Bukankah mereka memiliki sifatnya yang aktif ingin tahu yang besar, terlibat dalam suatu situasi secara utuh dan reflek terhadap sesuatu proses dan hasil-hasil yang ditemukan.

Metode penemuan adalah cara penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan inpormasi dengan aktif tanpa bantuan guru. Metode penemuan melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental dalam rangka pengembangannya. Metode ini memungkinkan para peserta didik menentukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.

 

Adapun tujuan  metode penemuan adalah :

  1. Meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam menemukan dan memproses bahan pelajarannya.
  2. Mengurangi ketergantungan  peserta didik pada guru untuk mendapatkan pengalaman belajarnya.
  3. Melatih peserta didik menggali dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak ada habisnya.
  4. Memberi pengalaman belajar seumur hidup.

 

Alasan penggunaan metode penemuan :

  1. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat
  2. Belajar tidak hanya dapat diperoleh dari sekolah tetapi dari lingkungan sekitar.
  3. Melatih peserta didik untuk memiliki kesadaran sendiri kebutuhan belajarnya.
  4. Penanaman kebiasaan untuk belajar berlangsung seumur hidup.

 

Kekuatan metode penemuan

Kekuatan metode inkuiri adalah :

  1. Menekankan kepada proses pengolahan informasi oleh peserta didik sendiri.
  2. Membuat konsep diri peserta didik bertambah dengan penemuan-penemuannya yang diperoleh.
  3. Memiliki kemungkinan besar untuk memperbaiki dan memperluas penyediaan dan penguasaan keterampilan dalam proses kognitif para peserta didik.
  4. Penemuan-penemuan yang diperoleh peserta didik dapat menjadi kepemilikannya dan sangat sulit melupakannya.
  5. Tidak menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar karena peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.

 

Metode Pengajaran Unit

Metode pengajaran unit amatlah sesuai dilihat dari pendekatan DAP karena melalui pengajaran ini keunikan atau keragaman dan berbagai tingkatan perkembangan peserta didik dapat diakomodasikan. Pengajaran bisa menjadi lebih terbuka dengan tersedianya berbagai kesempatan bagi si anak memiliki kegiatan belajar. Suatu pengajaran unit bisa menjadi ”harinya” bagi si anak.

Pengajaran unit lebih dikenal dengan istilah ”unit teching” merupakan pengajaran yang mengarahkan kegiatan peserta didik pada pemecahan suatu masalah yang dirumuskan dahulu secara bersama-sama. Metode pengajaran unit didefinisikan sebagai cara penyajian pembelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahanya secara keseluruhan dan bermakna. Dalam perkembangan terakhir ini pengajaran unit sering diungkapkan sebagai pembelajaran berkorelasi atau pembelajaran terpadu.

 

Terdapat beberapa jenis pemecahan masalah dalam pengajaran unit yaitu :

  1. Keterhubungan antar dua atau lebih masalah, konsep, keterampilan, tugas, atau ide-ide lain di dalam satu bidang study yang dikenal dalam pembelajaran terpadu sebagai Model Terhubung. ( Connetec; Model )
  2. Jaringan topik yaitu pemecahan masalah yang melibatkan penetapan tema dan beberapa topik atau sub tema dalam berbagai bidang study, yang dalam pembelajaran terpadu dikenal sebagai model Jaring Laba-Laba ( Webbel; Model)
  3. Lintas bidang study yaitu pemecahan masalah yang melibatkan adanya perioritas kurikuler dan menemukan pengetahuan atau konsep keterampilan dan sikap yang tumpang tindih ( Operlapping ) dari bebarapa bidang study yang dalam pembelajaran terpadu dikenal dengan sebutan Model Terpadu itu sendiri ( Integrated Model).

 

Adapun tujuan dan penggunaan metode pengajaran unit adalah :

  1. Melatih peserta didik berpikir komperehensif dengan cara mengkaji dan memecahkan permasalahan dari berbagai disiplin ilmu atau berbagai aspek.
  2. Melatih peserta didik menggunakan keterampilan proses atau metode ilmiah dengan pemecahan msalah.
  3. Terbentuk sikap kritis, kerjasama, rasa ingin tahu, menghargai waktu dan menghargai pendapat orang lain.
  4. Melatih peserta didik agar memiliki kemampuan merencanakan mengorganisasi dan memimpin suatu kegiatan.
  5. Mengembangkan keterampilan berkomonikasi.

 

Kekuatan dan Keterbatasan Metode Pengajaran Unit

A. Kekuatan Metode Pengajaran Unit

            Berbagai kekuatan penggunaan Metode Pengajaran Unit ini, adalah :

  1. Membantu peserta didik lebih berpikir komperehensif.
  2. Memperluas wawasan peserta didik dalam ilmu pengetahuan dengan keanekaragaman sumber informasi.
  3. Memperhatikan karaktersitik peserta didik secara khusus.
  4. Menciptakan iklim demokratis dalam belajar dimana peserta didik dapat menentukan rencana bersama guru tentang topik yang akan dibahas.
  5. Pengajaran unit disesuaikan dengan tingkat perkembangan minat dan bakat peserta didik sehingga pengajaran akan lebih bermakna.

B. Keterbatasan Metode Pengajaran Unit

            Adapun berbagai keterbatasan kegunaan metode ini adalah :

  1. Sulit menentukan topik yang sesuai dengan minat, bakat dan perkembangan anak.
  2. Memerlukan kecakapan khusus dalam melaksanakan pengajaran unit.
  3. Memerlukan biaya yang cukup besar.
  4. Memerlukan waktu yang cukup lama.
  5. Kemungkinan pemecahan masalah yang kabur dan dangkal karena ditinjau dari berbagai disiplin ilmu dan tidak semua disiplin ilmu dapat dikuasai peserta didik dengan baik.

Demikianlah Strategi Dan Inovasi Pembelajaran Untuk Siswa SD yang penulis sajikan.

 

 

Diajukan dalam rangka memenuhi tugas Tes Masuk SDIT ’Ibadurrohman.

Sumber: Strategi Belajar Mengajar oleh Mulyani Sumantri, Johan Permana Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar 1998-1999.

 

 

 

 

METODE PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AFEKTIF PADA PENDIDIKAN ISLAM TERPADU(Studi Kasus pada Sekolah Islam Terpadu di Daerah Istimewa Yogyakarta)

A.Latar Belakang Masalah

Pola kajian kependidikan Islam di Indonesia sebagaimana yang terdapat dalam literatur-literatur yang ada pada saat ini, pada dasarnya terfokus pada tiga kategori, yaitu: pertama, kajian-kajian sosio-historis pendidikan Islam; kedua, kajian pemikiran dan teori pendidikan Islam; dan ketiga, kajian metodologis pendidikan Islam. Pola-pola yang dikembangkan ini secara umum memiliki kesamaan tujuan yaitu mencari format terbaik bagi teori dan landasan praktik pelaksanaan pendidikan Islam.

Ajaran Islam sebagaimana yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw., sebenarnya kaya akan fundamental doctrines dan fundamental values dalam berbagai aspek kehidupan manusia, yang dapat digali dan ditangkap sesuai dengan disiplin keilmuan atau keahlian seseorang. Para pemerhati dan pengembang pendidikan Islam akan berusaha menangkap dan menggalinya dari tinjauan aspek kependidikan.

Salah satu model penggalian dan pengkajian terhadap fundamental doctrines dan fundamental values dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang dilakukan oleh para ulama atau pemerhati dan pengembang pendidikan Islam adalah model “Pereneal-Esensialis Kontekstual”, yakni upaya memahami ajaran-ajaran dan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah al-shahihah dengan mengikutsertakan dan mempertimbangkan khazanah intelektual muslim klasik di bidang pendidikan, serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh dunia pendidikan modern. Jadi, model ini selalu mempertimbangkan normatifitas ajaran Islam dengan mendekatkannya dengan realitas modern. Pengkajian pemikiran terhadap pemikiran ulama klasik dimaksudkan untuk menjadikannya sebagai landasan dalam melakukan verifikasi dan relevansi dengan konteks kekinian dan yang akan datang.

Berbicara tentang Pendidikan Islam, agaknya sangat idealis dan utopis bila hanya berkutat pada persoalan fundasional filosofis, karena kegiatan pendidikan sangat concern terhadap persoalan-persoalan operasional. Di antara kelemahan dari kajian Pendidikan Islam yang selama ini mewacana dalam berbagai literatur kependidikan Islam adalah mereka hanya kaya konsep fundasional atau kajian teoritis, tetapi miskin dimensi operasional atau praktisnya, atau sebaliknya kaya praktik/operasional, tetapi lepas dari konsep fundasional dan dimensi teoritiknya.

Untuk mencegah timbulnya kesenjangan sekaligus mencari titik temu dari persoalan tersebut, muncullah gagasan Pendidikan Islam Terpadu, sebuah model pendidikan yang didesain dengan segala keterpaduan dari berbagai sisi dan aspek pendidikan, yang meliputi visi, misi, kurikulum, pendidik, suasana pembelajaran, dan lain sebagainya.
Sekolah Islam Terpadu sebagai bentuk satuan pendidikan pra-dasar, dasar, dan menegah memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun, membentuk, membina, dan mengarahkan anak didik menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang memiliki karakter dan kepribadian yang positif, manusia yang mampu memahami diri sendiri dan orang lain, manusia yang trampil hidupnya, manusia yang mandiri dan bertanggung jawab, dan manusia yang mau dan mampu berperan serta dan bekerja sama dengan orang lain. Untuk itu Sekolah Islam Terpadu mencoba menerapkan sistem terpadu dengan penerapan program full day school. Yang dimaksud program terpadu adalah program yang memadukan antara program pendidikan umum dan pendidikan agama, antara pengembangan potensi intelektual (fikriyah), emosional (ruhiyah) dan fisik (jasadiyah), dan antara sekolah, orang tua dan masyarakat sebagai pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap dunia pendidikan.

Pemaduan program pendidikan umum dan agama dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif artinya porsi program pendidikan umum dan program pendidikan agama diberikan secara seimbang. Sedang secara kualitatif berarti pendidikan umum diperkaya dengan nilai-nilai agama dan pendidikan agama diperkaya dengan muatan-muatan yang ada dalam pendidikan umum. Nilai-nilai agama memberikan makna dan semangat (ruh) terhadap program pendidikan umum.

Potensi dasar (fithrah) manusia seperti ; potensi intelektual ( fikriyah), emosional (ruhiyah), dan fisik (jasadiyah) merupakan anugerah dari Allah yang perlu ditumbuhkan, dikembangkan, dibina, dan diarahkan dengan baik, benar dan seimbang. Program pendidikan terpadu diharapkan menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan, mengembangkan, membina, dan mengarahkan potensi-potensi dasar yang dimiliki anak didik.

Berangkat dari pemahaman bahwa pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah, dan masyarakat, sekolah sebagai sebuah institusi adalah pelaksana langsung proses pendidikan, sedang orang tua dan masyarakat sebagai pihak pengguna dan penikmat hasil pendidikan perlu diberdayakan. Pemberdayaan orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan dititik beratkan pada peran serta mereka dalam penyamaan perlakuan terhadap anak didik serta dalam jalannya proses pendidikan.

Mereka bisa menjadi fasilitator, evaluator, donatur bahkan menjadi sumber belajar. Program pendidikan terpadu menjadi salah satu wahana untuk mengoptimalkan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah dan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Dengan demikian Sekolah Islam Terpadu bertolak dari visi yang dibangun atas dasar keyakinan, bahwa proses pendidikan bertolak dari dan menuju fitrah manusia yang hakiki sebagai hamba Allah. Dalam arti pendidikan merupakan proses pencarian jati diri manusia dan proses memanusiakan manusia. Pendidikan membangun kesadaran kepada manusia tentang; siapa yang menjadikan manusia itu ada, dari mana manusia itu berasal, dan apa tugas manusia di bumi ini? Dalam proses pendidikan manusia diposisikan dan diperlakukan sebagai manusia, yang memiliki potensi, ciri dan karakteristik yang unik. Maka dalam proses memanusiakan manusia itu harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah, Rabb yang menjadikan manusia itu ada dan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Saw.

Dalam mencapai visi tersebut, Pendidikan di Sekolah Islam Terpadu mengemban misi menjadi wahana konservasi nilai-nilai ajaran Islam yang dibawa, diajarkan, dan dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Menjadi wahana dalam membangun, menumbuhkan, mengembangkan, membentuk, membina, dan mengarahkan potensi dasar (fithrah) anak didik. Menjadi mediator dalam menghantarkan anak didik memasuki zaman, sejarah, dan tantangan yang akan dihadapinya. Dengan tujuan menumbuhkan, mengembangkan, membentuk, dan mengarahkan anak didik menjadi hamba Allah yang shaleh secara individual dan sosial, serta memberikan kemampuan dasar kepada anak didik berupa pengetahuan, ketrampilan, dan sikap terpuji sesuai usia perkembangannya sebagai bekal hidup dan kehidupannya.

Dalam perkembangannya, model pendidikan ini selalu diorientasikan pada pembentukan karakter anak yang utuh baik diri aspek kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Dalam aspek kognitif misalnya, anak didik dituntut untuk memiliki wawasan yang luas baik dalam ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum. Pada aspek afektif anak dituntut memiliki aqidah yang benar, bersikap positif, misalnya: santun, toleran, jujur, berani, disiplin, rajin, cinta kasih sesama, bertanggung jawab, mandiri. Dalam aspek psikomotorik, misalnya anak akan terbiasa mencintai membaca dan menghafal Al-Qur’an maupun Al-Hadits, mampu melaksanakan praktek ibadah secara benar, bertindak trampil dan kreatif, serta selalu mengusahakan kesehatan dirinya.

Sejalan dengan visi, misi, dan tujuan yang dipaparkan di atas, Sekolah Islam Terpadu dirancang dengan sistem terpadu yang memungkinkan siswa mengembangkan potensi dasarnya secara terpadu, terus menerus dan berkesinambungan. Guru tidak hanya berperan sebagi pengajar (mudarris), tetapi juga sebagai pendidik (murabbi) setia yang memahami perkembangan siswa. Guru dituntut menjadi sumber keteladanan yang nyata bagi siswa.

Lingkungan pendidikan dirancang sebagai masyarakat belajar (learning society) sehingga siswa berinteraksi secara simbiosis mutualistik; saling mengingatkan (taushiah bil haq wa shabr), siap menjadi pelajar dan sekaligus menjadi pengajar. Proses pendidikan senantiasa diwarnai nuansa-nuansa religius sehingga membentuk karakter keberagamaan yang baik. Hal ini tidak terlepas dari optimalisasi fungsi masjid/mushala sekolah sebagai media dan sentra kegiatan siswa. Pengembangan pendidikan emosional anak dilakukan secara konseptual melibatkan pengalaman langsung tentang apa yang sedang diajarkan . Orang tua juga diikutsertakan secara aktif dalam membantu penyelenggaraan pendidikan. Mereka berperan sebagai partner dalam penyelenggaraan pendidikan. Orang tua dapat menciptakan dan menerapkan kebiasaan –misalnya hal-hal yang bersifat spiritual- dalam berbagai rutinitas kehidupan sehari-hari. Orang tua secara spontan bisa mengingatkan untuk berdo’a –sesuai dengan yang telah diajarkan di sekolah- dalam berbagai tindakan anak.

Tentu saja dalam melaksanakan program besar ini peran serta orang tua siswa didik menjadi sangat penting, berangkat dari asumsi bahwa pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah, dan masyarakat. Orang tua sebagai pihak pengguna dan penikmat hasil pendidikan memiliki tugas yang sama dalam mendidik anak. Sekolah dan orang tua melakukan penyelarasan visi, misi, strategi, tujuan dan sasaran pendidikan. Hubungan antar keduanya bersifat mutualistik untuk mewujudkan kerjasama yang produktif, saling pengertian dan atas dasar pembagian wilayah kerja. Media untuk menjembatani terciptanya hubungan tersebut adalah Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan/BP3.

Melalui BP3, orang tua murid dapat memainkan peran dalam membantu kelancaran proses pendidikan, memberikan masukan, saran, tanggapan, gagasan dan melakukan evaluasi terhadap jalannya proses pendidikan. BP3 merupakan bagian integral dari struktur lembaga pendidikan.

Demikianlah dengan segenap keterpaduannya, Pendidikan Islam di Sekolah Islam Terpadu menawarkan berbagai nilai lebih yang bisa diperoleh diantaranya adalah: siswa mendapatkan pendidikan umum yang penuh dengan nuansa keislaman, siswa mendapatkan pendidikan agama Islam secara aplikatif dan teoritis, siswa mendapatkan pendidikan dan bimbingan ibadah praktis (doa, shalat dan dzikir, cara makan/minum, dan lain-lain), siswa mendapat pelajaran dan bimbingan cara baca dan menghapal Al-Qur’an (tahfizh) secara tartil, siswa dapat menyalurkan potensi dirinya melalui kegiatan ekstra kurikuler, perkembangan bakat, minat, dan kecerdasan siswa diantisipasi sejak dini, pengaruh negatif dari luar sekolah dapat diminimalisir, bagi orang tua yang sibuk Sekolah Islam Terpadu –dengan model full day school- merupakan solusi untuk pembinaan kepribadian putra-putrinya, siswa mendapatkan pendidikan bagaimana cara hidup bersama dengan teman, dan nilai-nilai positif lainnya . Selain itu siswa didik akan belajar tentang kecakapan hidup (life skill) yang memberikannya tumbuh akan kesadaran diri (self awareness), trampil berpikir (thinking skill) dan bersosialisasi diri (social skill).

Melihat kenyataan bahwa pola pendidikan –pada umumnya- saat ini hanya sekedar menampilkan aspek ‘simbolis’ bahwa setiap anak didik yang lulus kemudian mendapatkan ijazah yang bertuliskan deret angka, tetapi kurang membentuk sikap dan pola pikir anak. Anak mengalami split-personality akibat salahnya sistem pendidikan. Sekolah seperti ini tidak lagi tampil sebagai suatu lembaga pendidikan tetapi telah terjebak menjadi “industri pengajaran” yang hanya sekedar memenuhi target kurikulum tanpa memperhatikan ‘evaluasi’ terhadap hasil proses belajar-mngajar pada anak didiknya (karakter seperti apa yang ada pada anak setelah selesai mendapat pengajaran?). Anak hanya sekedar tersekolahkan tetapi tidak terdidik oleh budaya intelektual, sosial, budaya dan agama. Kalau orientasi pendidikan pada diri anak sendiri tidak pernah tercapai, lalu bagaimana dengan orientasi kebangsaan yang lebih besar.

Menurut Ki Hadjar Dewantara tentang tujuan pendidikan adalah bahwa pendidikan sebagai penyokong kodrat alami anak-anak agar mereka dapat mengembangkan kehidupan lahir dan bathinnya menurut kodrat masing-masing. Pengetahuan dan kepandaian bukan tujuan melainkan merupakan alat (perkakas) untuk meraih kematangan jiwa yang akan dapat mewujudkan hidup dan penghidupan yang tertib dan suci, serta bermanfaat bagi orang lain . Intinya, pendidikan harus berorientasi kepada kematangan –integritas dan kapabilitas- pribadi untuk suatu perubahan sosial dalam masyarakat.

Secara normatif-konseptual sistem Pendidikan Islam Terpadu sangat siap memenuhi tuntutan ini, tinggal bagaimana membuat langkah-langkah oprerasionalnya yang sistematis, terpadu dan komprehensif. Jika peluang ini telah terbaca, bukan mustahil pendidikan Islam akan menjadi alternatif pilihan untuk membentuk karakter anak menuju pada bangsa yang berperadaban tanpa harus kehilangan identitas dan mengorbankan prinsip.

B.Landasan Teori

Para ahli dan praktisi dalam bidang pendidikan semakin menyadari betapa pentingnya peranan pendidikan afektif, supaya tujuan pendidikan yang sebenarnya dapat tercapai. Tujuan tersebut ialah bahwa subjek didik mampu dan mau mengamalkan pengetahuan yang diperoleh dari dunia pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih-lebih setelah muncul suatu temuan bahwa EQ (emotional quotion) menyumbang 80% terhadap keberhasilan seseorang dalam kehidupan, dibandingkan dengan IQ (Intelligence quotion) yang hanya menyumbang 20 % (Golemen, alih bahasa Hermaya, 1997). Keseimbangan antara kegiatan zikir dan fikir (juga fisik) juga merupakan ajaran Islam, yang kebenarannya telah terbukti secara empiris.

Kepedulian terhadap pengembangan afektif banyak difokuskan pada segi evaluasi, termasuk perumusan tujuan instruksional. Sementara dalam pendidikan di Indonesia yang berkembang adalah melihat pada prosesnya. Adapun yang menjadi kajian terpenting dalam pendidikan afektif adalah meliputi ketrampilan intrapersonal dan interpersonal. Ketrampilan intrapersonal berkaitan dengan pengembangan kemampuan mengelola diri sendiri, sedangkan ketrampilan interpersonal berhubungan dengan pengembangan kemampuan mengadakan hubungan antarpribadi. Dalam pengembangan ketrampilan intrapersonal selain membangun kesadaran diri, aspek lain yang perlu diperhatiakan adalah minat. Motivasi, sikap, dan nilai (values). Sementara dalam pengembangan keterampilan interpersonal aspek terpenting adalah bagaimana kita dapat menggunakan informasi tentang orang lain, agar dapat berhubungan secara efektif. Di sinilah ketrampilan untuk berkomunikasi dengan orang lain menjadi aspek kecerdasan (kecakapan) sosial. Kemampuan menyimak, asertif, mengatasi konflik, bekerjasama adalah bagian dari ketrampilan ini.

Selain itu –menurut B.S. Bloom- yang juga termasuk ranah afektif (affective domain) adalah: Penerimaan, mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru; Partisipasi, mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan; Penilai/penentuan sikap, mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu; Organisasi, kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan; Pembentukan pola hidup, mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri. Dan sistematika yang dipakainya adalah melalui fase pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi, baru kemudian hasil.

Penekanan perkembangan afektif adalah pada bagaimana perasaan anak, bukan pada apa yang dirasakan oleh anak. Dengan kata lain yang menjadi pertanyaan utama adalah bagaimana perasaan atau emosi berubah atau bagaimana afeksi ditransformasikan dalam perkembangan . Dengan demikian pendekatan yang dipakai adalah lebih bersifat pedagogis (melihat dari bagaimana metode pengajarannya), karena mengutamakan aspek transfer of values.

C.Rumusan Masalah

Dari latar belakang dan dasar pemikiran di atas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.Bagaimana implementasi konsep Pendidikan Islam Terpadu bagi pembentukan sikap dan kepribadian anak?
2.Aspek-aspek afektif apa saja yang dikembangkan dari model pembelajaran di Sekolah Islam Terpadu?

D.Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Setelah dirumuskan masalah di atas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
1.Mencari langkah taktis-operasional dari konsep -kurikulum dan metodologi pembelajaran- Pendidikan Islam Terpadu dalam pembentukan sikap dan kepribadian anak.
2.Mengetahui aspek-aspek afektif apa saja yang dihasilkan dari metode pembelajaran di Sekolah Islam Terpadu.

Adapun kegunaan penelitian (contribution to knowledge) ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.Dapat terbangunnya kembali konsepsi-aplikatif Pendidikan Islam sebagai alternatif utama bagi upaya pembentukan dan pencerdasan pribadi dan bangsa.
2.Anak mendapatkan basic keislaman yang memadai sebagai bekal menghadapi berbagai persoalan yang ada di masa depan.
3.Menghilangkan asumsi dikotomisasi antara ilmu agama (reveal knowledge) dengan pengetahuan umum (science), wewenang tanggungjawab sekolah, orang tua dan masyarakat.
4.Mendapatkan kualifikasi tertentu sebagai hasil capaian suatu proses belajar-mengajar. Misalnya, pencapaian kualifikasi kepribadian anak yang lurus aqidahnya, rajin ibadahnya, mulia akhlaknya, sehat dan kuat badannya, cerdas pemikirannya, santun sikapnya, bertanggungjawab, kreatif, mandiri dalam hidupnya, serta bermanfaat bagi orang lain.

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah lapangan, bersifat deskriptif kualitatif dan kuantitatif, dengan pendekatan paedagogis. Subyek penelitiannya adalah Sekolah Islam Terpadu dilakukan secara stratifaid random sampling, yaitu dengan mengambil sampel secara prosentase dari masing-masing tingkatan sekolah (TKIT-SDIT-SMPIT). Dari masing-masing level pendidikan ini akan diambil satu sekolahan sebagai sampel penelitian. Untuk tingkat TK adalah TKIT Salman Al-Farisy di Warungboto, untuk SD adalah SDIT Luqman Al-Hakim di Timoho, dan untuk SLTP adalah SMPIT Abu Bakar di Umbul Harjo.

2. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan jalan observasi langsung ke sekolah, wawancara dengan guru, angket, dan dokumentasi. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan statistik sederhana. Sedangkan untuk analisis data kualitatifnya adalah menilai hasil dari pengamatan (observasi) tentang kejadian-kejadian di sekolah yang berkaitan dengan siswa dan hasil wawancara dengan guru tentang sejauh mana proses transfer of value yang dikembangkan.

F. Sistematika Pembahasan

Tulisan ini dibagi dalam empat bab dengan rincian:
Bab pertama berisi pendahuluan yang menggambarkan latar belakang pentingnya Pendidikan Islam (Terpadu) serta penegasan istilah dalam judul.
Bab kedua berisi tentang sejarah dan profil Sekolah Islam Terpadu di Yogyakarta.
Bab ketiga berisi tentang analisa kurikulum dan metodologi pembelajaran di Sekolah Islam Terpadu.

Bab keempat berisi kesimpulan dan saran yang mengingatkan tentang pentingnya peran dan tanggungjawab secara terpadu antara pihak sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat dalam usaha melakukan pendidikan kepada anak.

G. Daftar Pustaka

Abaza, Mona, (1999), Pendidikan Islam dan Pergeseran Orientasi, Pustaka LP3ES Indonesia.
Al-Hasyimi, ‘Abdul Hamid, (2001), Ar-Rasulu Al-‘Arabiyyu Al-Murabbi terj. Mendidik Ala Rasulullah, Jakarta: Pustaka Azzam.
Arikunto, Suharsimi, (1997), Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Brannen, Julia, (1999), Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Golemen, Daniel, (2001), Emotional Intelligence terj. Kecerdasan Emosional, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Majalah Pendidikan Gerbang, Yogyakarta (2001): LP-3 UMY.
Mimie Doe & Marsha Walch, (2002), 10 Principles for Spiritual Parenting Nurturing Your Child’s Soul terj. 10 Prinsip Spiritual Parenting: Bagaimana Menumbuhkan dan Merawat Sukma Anak-anak Anda, Bandung: Kaifa Mizan Media Utama.
Muhaimin, Sutiah, Nur Ali, (2001), Paradigma Pendidikan Islam: Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R., (1998), Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21, Magelang: Tera Indonesia.
Ulwan, Abdullah Nashih, (1981), Tarbiyatul Aulad fil-Islam terj. Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Semarang: CV. Asy-Syifa’.
Winkel, W.S. (1999). Psikologi Pengajaran, Jakarta: PT. Gramedia.
Zuchdi, Darmiyati. Kumpulan Makalah.

 

 

ahmadaziez

 

15 Responses to “Strategi dan inovasi Sekolah Dasa Islam Terpadu”

  1. hellooo.. artikel nya bagus2 thanks n salam kenal ya..

  2. good…article…, at least…this is what I need…Thx a lot

  3. terimakasih saya mendapat pengetahuan baru yang Insya Allah sangat bermanfaat bagi saya dalam melakukan kegiatan belajar

  4. Hi there everyone, it’s my first pay a quick visit at this website, and paragraph is truly fruitful in support of me, keep up posting such articles.

  5. Today, I went to the beachfront with my children. I found
    a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to her ear and screamed.
    There was a hermit crab inside and it pinched her ear.
    She never wants to go back! LoL I know this is
    entirely off topic but I had to tell someone!

  6. This is my first time pay a visit at here and i am genuinely happy to read everthing at single place.

  7. Just wish to say your article is as surprising.
    The clearness in your post is simply great and i could assume
    you’re an expert on this subject. Well with your permission allow me to grab your RSS feed to keep updated with forthcoming post. Thanks a million and please keep up the enjoyable work.

  8. Hmm is anyone else encountering problems with the images on this blog loading?
    I’m trying to figure out if its a problem on my end or if it’s the blog.

    Any suggestions would be greatly appreciated.

  9. It’s hard to come by knowledgeable people about this subject, but you seem like you know what you’re talking about!
    Thanks

  10. I’m amazed, I must say. Seldom do I come across a blog that’s both educative and entertaining, and let me tell you, you have hit the nail on the head.
    The problem is something which too few folks are speaking intelligently about.
    I’m very happy that I found this during my search for something relating to this.

  11. This is a great tip especially to those fresh to the blogosphere.
    Brief but very accurate information… Thanks for
    sharing this one. A must read post!

  12. I rarely drop comments, however after reading through some of the comments
    on this page Strategi dan inovasi Sekolah Dasa Islam Terpadu | INTERNET DALAM PERSPEKTIF.
    I do have a few questions for you if it’s allright. Could it be simply me or does it seem like some of these responses come across like they are left by brain dead individuals? :-P And, if you are posting at additional places, I’d like to
    follow you. Would you post a list of all of your public sites
    like your linkedin profile, Facebook page or twitter feed?

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 65 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: